CENTRO RIAU Pekanbaru -Profil pelajar pancasila dicetuskan sebagai haluan dalam pendidikan Indonesia, yang akan menjadi penciri dalam kurikulum merdeka, yang diluncurkan Mendikbudristek pada Februari 2022 dalam rangka pemulihan pembelajaran 2022-2024, namun sekolah yang belum siap untuk menggunakan kurikulum merdeka masih dapat menggunakan kurikulum 2013 dan kurikulum darurat.
Focus kurikulum merdeka yaitu pada materi esensial, pengembangan karakter, dan kompetensi peserta didik, yang berbeda dengan kurikulum sebelumnya (kurikulum 2013). Jika dilihat dari perjalanan kurikulum Indonesia telah mengalami beberapa kali perubahan; Tahun 1947 Rencana Pelajaran, Tahun 1964 Rencana Pendidikan Sekoah Dasar, Tahun 1968 Kurikulum Sekolah Dasar, 1973 Kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan, 1975 Kurikulum Sekolah Dasar, 1984 Kurikulum 1984, 1994 Kurikulum 1994, 1997 Revisi Kurikulum 1994, 2004 Rintisan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), 2006 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, 2013 Kurikulum 2013, 2022 Kurikulum Merdeka. Kenapa terjadi perubahan kurikulum? ada anekdot bahwa ganti menteri ganti kurikulum, namun secara akademis tentu mempunyai alasan sendiri diantaranya menurut Soetopo dan Soemanto (1991) penyebab terjadinya kurikulum secara umum di berbagai Negara diantaranya:
- Pembebasan beberapa wilayah di dunia dari penjajahan. Ketika negara-negara tersebut merdeka, mereka mendapati bahwa mereka telah dididik dalam sistem pendidikan yang tidak lagi sesuai dengan cita-cita nasional merdeka. Oleh karena itu, mereka mulai merencanakan perubahan besar dalam kurikulum dan sistem pendidikan yang ada.
- Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat. Di sisi lain, perkembangan berbagai mata pelajaran yang diajarkan di sekolah memunculkan teori-teori kuno. Di sisi lain, perkembangan psikologi, komunikasi, dan ilmu-ilmu lainnya mengarah pada penemuan teori-teori baru dan cara belajar mengajar. Kedua perkembangan di atas dengan sendirinya mendorong perubahan isi kurikulum dan strategi pelaksanaannya
- Pesatnya pertumbuhan penduduk dunia Seiring bertambahnya populasi, demikian juga jumlah orang yang membutuhkan pendidikan. Akibatnya, metode atau pendekatan sebelumnya dalam pelatihan ditinjau dan, jika perlu, diubah untuk dapat bereaksi terhadap kebutuhan pelatihan yang semakin meningkat.
- Selain pendapat diatas tentu kebijakan pemerintah dalam perubahan kurikulum merupakan memperbaiki kualitas pendidikan sehingga mempunyai daya saing dengan negara-negara luar, menuju perubahan yang lebih baik dan inovatif. Bagaimana dengan kurikulum merdeka, tujuan kurikulum merdeka adalah menciptakan pendidikan yang menyenangkan bagi peserta didik dan guru, yang mengedapankan aspek keterampilan dan karakter sesuai dengan nilai-nilai bangsa Indonesia. Sehingga cara mengajar guru berbeda dengan kurikulum sebelumnya dimana diberikan kebebasan (merdeka), begitu juga dengan area belajar sebagai area sekolah yang juga merdeka. Mereka belajar upaya memerdekakan dalam berpikir dan berekspresi sesuai dengan kosep dan semangat Ki Hajar Dewantara yaitu memerdekakan manusia dalam belajar.
Dalam kurikulum merdeka dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam, sehingga pembelajaran lebih maksimal dan waktu yang panjang dalam mendalami konsep dan memperkuat kompetensinya. Adapun karakteristik dari merdeka belajar adalah lebih difokuskan pada materi esensial fleksibel serta pengembangan karakter dan kompetensi peserta didik. Berikut karakteteristik dari merdeka belajar: 1) pembelajaran berbasis proyek sesuai profil pelajar pancasila, 2) focus pada materi esensial sehingga terhadap waktu untuk pembelajaran yang mendalam bagi kompetensi dasar, 3) flesibilitas guru untuk bisa melakukan pembelajaran yang terdiferensiasi sesuai kemampuan peserta didik. Tahapan implementasi penerapan kurikulum merdeka belajar pada satuan pendidikan memiliki 3 jalur disesuaikan dengan kondisi dan situasi dari masing-masing satuan pendidikan yaitu mandiri belajar, mandiri berubah, mandiri berbagi.
2).Selanjutnya adalah langkah-langkah projek profil dimulai dari memahami projek penguatan profil pelajar pancasila, menyiapkan ekosistem sekolah, mendesain projek penguatan profil pelajar pancasila, mengelola project penguatan profil pelajar pancasila, mendokumentasikan dan melaporkan hasil projek penguatan profil pelajar dan evaluasi dan tindak lanjut projek penguatan profil pelajar pancasila. Adapun tema-tema projek profil SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA, SMK/MAK dan Sederajat yaitu: Gaya hidup berkelanjutan, Kearifan Lokal, Bhineka Tunggal Ika, Bangunlah Jiwa dan Raganya, Suara Demokrasi, Rekayasa dan Teknologi, Kewirausahaan, kebekerjaan. Berdasarkan tema yang disampaikan tersebut terumata pada tema kearifan lokal melayu bisa mengabil kearifan lokal; 1. Pantun Melayu, 2. Pacu Jalur, 3. Batobo, 4. Randai, 5. Pakaian melayu, 6. Rimbo Larangan, 7. Parau Baganduang, dan 8. Pekandangan, dll.
bentuk kepedulian kurikulum merdeka terhadap budaya bangsa adalah dimasukannya tema kearifan lokal daerah masing-masing untuk dijadikan project yang dikerjakana secara kolaborasi. Ruang untuk mengerjakan project itu cukup besar karena diberikan opsi di integrasikan ke mata pelajaran lain, melalui projek penguatan profil pelajar pancasila, atau sebagai mata pelajaran sendiri selama dua jam.
Tujuan pengenalan kearifan lokal melalui pembelajara proyek yaitu 1) agar peserta didik akrab dengan budaya serta nilai-nilai social yang berada dilingkungannya, 2) mengembangkan keterampilan peserta dalam mengimplementasikan budaya, 3) menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar, 4) terjadinya kerjasama/kolaborasi antara peserta didik, guru, warga masyarakat, dan 5) sebagai pewaris nilai-nilai budaya dimasa yang akan dating.
Selain itu dengan adanya tema kearifan lokal pada ada Kurikulum Merdeka Belajar, dengan tujuan memperkenalkan setiap siswa kepada lingkungan sendiri, ikut melestarikan budaya daerahnya yang termasuk kerajinan, keterampilan yang menghasilkan nilai ekonomi di daerahnya, memberikan bekal kemampuan, keterampilan untuk hidup di masyarakat dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, serta dapat menolong diri sendiri dan orang tuanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Pembelajaran denga proyek tersebut peserta didik tidak hanya di kelas saja tetapi juga dapat turun kelapangan untuk dapat memberikan manfaat secara praktis kepada masyarakat sehingga dengan pembelajaran seperti itu terbentuk karakter pada peserta didik sejalan dengan profil pelajar pancasila.
Oleh: Supentri
Penulis merupakan dosen Pendidikan Pancasila dan mahasiswa program doktor Pendidikan UNRI.
