CENTRO RIAU TELUK KUANTAN Sekretaris Ikatan Keluarga Kuantan Singingi (IKKS) Pekanbaru, Arman Lingga Wisnu, meminta Mantan Wakil Bupati Kuansing H Halim, agar tidak memandang orang dengan remeh secara ekonomi. Hal itu disampaikan Arman lewat media online Kuantanexpress.com pada Selasa, 2 Juli 2024.
”Urang Mudiak ado duik ndak (Orang mudik ada duit tak,” begitu komentar H Halim setelah melihat usulan dari Khobirul Jailani seorang Wartawan yang biasa disapa ‘Lan’ itu.
Masih di media online tersebut, Arman Lingga yang mengatahui komentar H Halim seperti itu, mengaku cukup tersinggung. Dan meminta kepada H Halim agar tidak memandang remeh atau rendah orang secara ekonomi.
”Ya kalau itu yang dia bilang. Kita selaku tokoh juga cukup tersinggung. Jangan merasa orang yang paling kaya di Kuansing. Kenapa mesti seperti itu, menganggap remeh atau rendah orang lain secara ekonomi. Apalagi dia itu tokoh juga, tak pantas seperti itu,”sesal Arman masih di Kuantanexpress.com terbitan (2/7/2024).
Setelah itu, sudut pandang yang berbeda dalam mengartikan rasis muncul dari Mantan Wakil Ketua DPRD kabupaten Kuansing, H. Saifullah Afrianto yang biasa disapa Datuk Oemar.
Tokoh Kuansing ini menyebarkan tulisannya via WhatsApp pada berbagai grup Kuansing
“Dimana rasisnya perkataan H Halim itu?, apa karna ia mengatakan, ” Urang mudiak ada duit Ndak” pertanyaannya, urang mudiak yang mana?, ia tidak mengatakan orangnya dan kampungnya.”Tanya dan jelas Datuk Omar itu ditulisan yang tersebar luas.
“Terlalu picik dan terlalu mudah kita untuk tersinggung, ucapan seperti itu hal yang biasa dalam politik, kalau kita bijak jadikan itu sebagai motivasi, jangan dijadikan untuk kita berkecil hati,”Nilai dan harap Owner Hotel Pujangga itu pada alenia kedua.
“Kalau ingin berkecimpung dalam politik praktis, perbesarlah kembangnya jala nya, jangan hanya maunya ditinggikan, karna dalam kompetisi kamu pasti juga akan menemukan direndahkan, itulah politik,”Jelas Tokoh Politik Kuansing yang baru-baru ini disebut ‘Rocky Gerung nya Kuansing”.
Untuk kita ketahui bersama, setiap mengakhiri tulisannya, ia tidak akan tinggal menuliskan”MAJULAH NEGERIKU”dengan huruf kapital.
Diketahui pada berbagai sumber, rasis adalah suatu sikap permusuhan atau penghinaan secara sistematis terhadap individu atau kelompok individu tertentu berdasarkan kebangsaan, warna kulit, asal usul, asal kebangsaan, atau etnis. Sedangkan H. Halim tidak pernah mengatakan kelompok individu tertentu. Bahkan, menurut penulis Media ini kata”Mudiak atau Mudik” itu artinya Pulang Kampung Sewaktu Lebaran. (Karta)
