Penulis : Muhammad Isnaini
Bekerja itu tidak perlu jauh. Walaupun dekat, yang penting yakin. Jika kita yakin, yang awalnya sedikit bisa berubah jadi banyak. Namun, jangan pula lupa bersedekah. Semangat itulah yang menjadi panutan. Mengalir di nadi Mak Risma dan keluarga. Keluarga kecil yang bermukim di Jalan Dorak, Desa Banglas, Kecamatan Tebingtinggi, Kepulauan Meranti, Riau. Mereka giat bekerja, berjualan di trotoar jalan, hingga membuka usaha kuliner online, mengolah “Makauhe” menjadi makanan lezat, yang kini, kelezatannya sudah sampai hingga ke negara tetangga Malaysia.
Berlantai papan dengan atap sederhana, tepat disamping rumah kayu usang, satu ember penuh hewan bercapit, bersalut lumpur mulai dibersihkan. Jari jemari Rocky sangat telaten menyikat lumpur, yang menempel ditubuh hewan endemik wilayah pesisir itu, satu persatu. Sebelum dijadikan kuliner lezat, tahapan pembersihan sesuai SOP (Standard Operating Procedure) harus dilakukan, begitu kata Rocky sambil berkelakar.
Mulai dari membuang cangkang kepala, membuang kotoran, hingga membersihkan seluruh bagian tubuh dari lumpur, sebelum dimasak. Bagi yang belum familiar, hewan yang satu ini berwarna merah, terkadang ada juga yang berwarna kehitam-hitaman. Di beberapa wilayah pesisir Riau, orang menyebutnya rama-rama. Namun di Kepulauan Meranti, hewan ini lebih dikenal dengan sebutan makauhe.

Kalau dilihat dari capitnya sekilas mirip kepiting, namun ia memiliki tubuh panjang layaknya lobster. Makauhe merupakan hewan endemik wilayah pesisir pantai Riau, yang hidup berdampingan dengan mangrove. Memiliki nama latin Thalassina anomala atau lobster kalajengking. Hewan ini kerap membuat sarang di dalam lumpur, sehingga ia juga dikenal dengan sebutan lobster lumpur.
Berbekal nama yang beragam dan bentuk yang unik, hewan ini ternyata memiliki cita rasa yang autentik. Terlebih saat diolah menjadi masakan makauhe saus, racikan Mak Risma. Begitu nama lain dari Rocky, wanita tangguh yang sudah puluhan tahun bergelut di dunia makauhe. Memiliki nama lengkap Eliawati (42), warga Jalan Dorak, Desa Banglas, Kecamatan Tebingtinggi, Kepulauan Meranti, Riau itu, sudah sejak tahun 2014 berjualan makauhe.
“Waktu itu kami membuka lapak di Jalan Ibrahim, simpang empat Jalan Imam Bonjol, kami berjualan makauhe mentah di situ,” sebut Mak Risma kepada Penulis, Senin (16/12/2024).
Ide berjualan makauhe itu spontan dia lakukan. Faktor ekonomi menjadi alasan utama, akhirnya Mak Risma memutuskan untuk berjualan hewan bercapit tersebut. Ia masih mengingat saat pertama kali membawa 30 ekor, untuk dijual di lapaknya. Harganya pun masih terbilang murah, yakni 3 ekor dibanderol dengan harga 10 ribu rupiah.
“Namanya berdagang, ada waktu habis dan ada juga tidak, kalau tidak laku terpaksa di jajakan dari rumah ke rumah warga. Namun jika tidak habis terjual, baru kami sedekahkan,” terangnya.

Hal tersebut dilakukan mengingat kondisi makauhe tidak mampu bertahan lama, sehingga, setiap hari harus terus berganti, agar makauhe yang dijual ke konsumen, selalu dalam kondisi segar. Aktivitas berjualan makauhe tersebut, Dia lakukan selama bertahun-tahun. Pasang surut usahanya pun telah dirasakannya. Namun tantangan terbesar baginya saat muncul serangan Virus Corona tahun 2020 silam. Pembatasan aktivitas masyarakat oleh pemerintah, kala itu, membuat omzet usaha jualannya menurut drastis, akibat sepi pembeli. Belum lagi pasokan makauhe terhenti, karena tidak ada warga yang mau keluar rumah, mencari makauhe. Mak Risma pun terpaksa turun langsung, mencari hewan lumpur itu, guna mendapatkan stok dagangan untuk dijual.
Ternyata ditengah cobaan terberatnya itu, merupakan awal keberkahan bagi keluarga kecilnya. Setelah berdiskusi bersama suami, ia memutuskan untuk mengolah dagangannya itu menjadi kuliner makauhe saus. Untuk melihat respon pasar, awalnya masakan tersebut ia berikan secara cuma-cuma, kepada sejumlah tetangga, disekitar rumah.
“Waktu masak makohe saus pertama kali kami bagikan ke tetangga dan jamaah Masjid. Hampir semua mengatakan sedap. Akhirnya kami lanjutkan berjualan makohe saus,” terang Mak Risma.
Tantangan tak berhenti sampai disitu, berbisnis kuliner disaat Pandemi Covid– 19, bukanlah hal mudah. Namun berkat semangat yang gigih, akhirnya ia memilih berjualan dengan sistem online. Saat itu ia mengaku harus menyudahi prediket Gaptek (Gagap Teknologi) dan mulai belajar menggunakan Android dan aplikasi media sosial (Medsos).
“Aku masih ingat waktu itu belajo medsos ini dari Wah Rosa, die tulah yang ngajo aku maen Facebook,” beber wanita yang kini telah memiliki 11 ribu pengikut, di akun Facebooknya, Makohe Selatpanjang.
Dari situlah awal perjalanan bisnis kuliner online miliknya mulai dikenal. Dia masih mengingat dengan jelas, orderan pertama kali yang diterimanya. Masakan makauhe sausnya terjual 20 ekor, yang dikemas ke dalam box. Masing-masing box berisi 3 ekor dan dijual 20 ribu rupiah..
Kelezatan makohe saus Mak Risma, mulai dikenal luas dari mulut ke mulut, hingga di medsos. Penjualannya pun terus mengalami peningkatan. Guna memenuhi pesanan online, suaminya Syahroma (41) turun langsung, mengantarkan pesanan ke konsumen, juga dibantu adiknya, guna memastikan pesanan makajhe saus tiba di pintu pelanggannya tepat waktu.
“Setalah mulai dikenal itu, minimal satu hari bisa terjual 50 ekor. Tapi kalau tidak habis, biasanya kami sedekahkan,” ujar wanita yang telah memiliki tiga orang anak itu.
Namanya bisnis online, pesanan fiktif juga kerap dia rasakan. Rasa gembira saat ada pesanan masuk senilai 300 ribu Rupiah, berakhir duka. Pasalnya, setelah paket siap dan diantar langsung ke rumah konsumen, pemilik rumah mengaku tidak pernah melakukan pesanan tersebut. Akhirnya, meski sedikit kesal, pesanan yang sudah terlanjur dibuat, lalu di obral lewat medsos, dengan harga lebih miring, agar tidak merugi lebih banyak.
“Kunci berusaha itu ramah, tidak pendendam dan rajin bersedekah. Walau pun ditipu jangan membalas dan jangan lokek,” ujarnya memberikan sedikit kiat.
Berkat kegigihan Mak Risma dan keluarga, bisnis.makauhe saus miliknya kini dikenal luas, tak hanya di Kepulauan Meranti, namun telah di order hingga ke Kabupaten Bengkalis, Pulau Jawa bahkan ke negara tetangga Malaysia. Saat ini, setiap harinya rata-rata mampu terjual sekitar 300 ekor. Untuk makauhe mentah, dijual dengan harga bervariasi, mulai harga 7 ribu hingga 9 ribu per ekornya. Tergantung ukuran, serta jenis makauhe jantan maupun betina. Jika bertelur dihargai 9 ribu per ekornya. Sedangkan makauhe saus saat ini, dijual dengan harga 13 ribu rupiah per ekor. Namun saat perayaan Imlek, Mak Risma akan kebanjiran order. Pasalnya banyak warga Tionghoa dari luar berdatangan merayakan Imlek di Kota Selatpanjang, dan memeriahkan Festival Perang Air, sehingga banyak yang memesan makauhe saus racikannya.
“Kalau Imlek pesanan makauhe bisa mencapai 1.000 ekor per hari.” Sebutnya.
Jika kebanjiran pesanan, tak hanya Mak Risma yang ketiban rejeki, namun sekitar 6 orang pekerja yang mencari makauhe ikut kebagian berkahnya. Kerena kegigihan nya menekuni bisnis kuliner makauhe, Mak Risma mengaku telah mampu menyekolahkan anaknya serta memenuhi beragam kebutuhan dan membangun rumah permanen yang baru selesai dikerjakan tahun ini. Dengan keberhasilannya sat ini Mak Risma mengaku akan tetap fokus berjualan online, dan tidak tertarik untuk membuka gerai, mengingat waktu kerja yang lebih fleksibel. Aktivitas itu rutin dilakoninya setiap hari. Jika hari libur ia juga dibantu anak-anaknya. Bahkan anak keduanya bernama Gadis.(19), yang kini masih bersekolah di SMKN 1 Tebingtinggi, sudah mewarisi resep makauhe saus milik Mak Risma.
“Yang penting yakin dan bersedekahlah pada orang yang membutuhkan, maka keberkahan akan kita dapatkan,” pungkasnya.
Fokus Pada Peningkatkan SDM
Peningkatan kapasitas dan keahlian Sumber Daya Manusia (SDM) juga menjadi fokus Dinas Koperasi UKM dan Tenaga Kerja Kepulauan Meranti, dengan memberikan pelatihan berbasis kompetensi, lewat kerjasama dengan Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) serta Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Provinsi Riau.
“Selama dua tahun terakhir ini, kita telah memberikan pelatihan kepada sekitar 36 orang, guna mengikuti pelatihan berbasis kompetensi,” ujar Kepala Dinas Koperasi UKM dan Tenaga Kerja Kepulauan Meranti, Tengku Arifin, melalui, Kepala Balai Pelatihan Tenaga Kerja, Anshary Arif, M.Si.
Menurutnya, sejauh ini banyak sektor UKM yang potensial di Meranti. Seperti yang digeluti Mak Risma. Namun peningkatan kapasitas pelaku usaha perlu menjadi prioritas. Disisi lain, masih banyak warga Meranti yang lebih memilih bekerja di negara jiran, meski tanpa mengantongi sertipikat keahlian, juga menjadi perhatian. Untuk itulah dibutuhkan pelatihan tak hanya bagi pelaku usaha namun juga menyiapkan SDM yang memiliki kompetensi. Dengan adanya pelatihan yang diberikan, selain menambah pengalaman dan memberikan nilai tambah, sertipikat yang didapat bisa dimanfaatkan dalam dunia kerja.
Lewat kerjasama dengan Disnaker Provinsi Riau, ada sejumlah pelatihan yang sudah dilaksanakan, diantaranya, pelatihan tata boga, pelatihan mengelas, manajemen perkantoran serta pelatihan servicehandphone.
“Kita berharap, dengan keahlian yang diberikan mampu meningkatkan keahlian dan membuka peluang usaha baru bagi peserta”, ujar Arif lagi.
Tak hanya itu, keberadaan Pekerja Migran Indonesia (PMI) juga tak luput dari perhatian Dinas Koperasi UKM dan Tenaga kerja Kepulauan Meranti. Lewat kerjasama dengan BP2MI, serta pihak Imigrasi Selatpanjang, kegiatan seminar dan sosialisasi juga telah dilaksanakan, dengan melibatkan sekitar 70 peserta. Tujuannya tidak lain, agar warga Meranti tidak terjebak dalam praktek perdagangan orang yang akhir-akhir ini marak terjadi dan muncul korban.
Respon masyarakat sejauh ini sangat baik, terhadap sejumlah program yang sudah direalisasikan. Dengan pelatihan dan sertipikat keahlian yang diberikan, diharapkan mampu menjadi bekal, serta kedepan setiap pelatihan berbasis peningkatan kompetensi ,bisa didukung dengan permodalan, sehingga akan tumbuh enterpreneur baru yang ulet, seperti Mak Risma dengan kuliner andalannya, makauhe masak saus
