CENTRO RIAU Nusantara -MUSIK YANG DICIPTAKAN DARI DIRI YANG MENYEMBAH
(catatan singkat dari pengalaman “pergi bersama” karya yang diperdengar-tontonkan)
Oleh: Harris Priadie Bah
Sebagaimana pagi yang telah melewat dalam hari-hari kehidupanku, pagi itu aku juga masih melayani kebiasaanku mendengarkan musik dan atau menonton seni pertunjukan lainnya lewat telpon genggam yang kuletakan di wastafel samping kiri closet di mana aku bisa duduk bermenit-menit bahkan tidak jarang sampai hitungan jam untuk suntuk mendengarkan musik di situ.
Lewat WhatApp, seorang kawan baik, EM ada mengirimkan link acara Borobudur Writer Cultural Festival (BWCF) yang menampilkan pertunjukan musik dirinya yang berjudul Gaung Genta.
Dengan bersegera aku masuki link tersebut dan berlangsunglah ritual pagi itu dengan sugguhan musik yang tidak biasa aku dengarkan selama pagi-pagi yang melewat itu, pagi yang biasanya intim dengan Eminem, Rich Brain, sampai Gombloh.
Dengan cepat aku terhipnotis oleh alunan bebunyian dari “Gaung Genta” yang dipresentasikan lewat tayangan gambar hidup berpindah-pindah linear dari satu pemusik ke pemusik lain dan juga penari yang menjadi ilustrasi menyatu dengan seluruh elemen gambar hidup dan bunyi alat musik yang dieksplorasi di situ.
Maka telpon genggam yang sebelumnya kuletakan di wastafel sebagaimana yang memang biasanya seperti itu aku lakukan setiap pagi saat sedang ritual di kamar mandi, aku ambil segera dan kupegang untuk kunikmati juga dengan leluasa tayangan gambarnya, bukan hanya suaranya saja.
Begitulah, selama lebih kurang tiga puluh menit persembahan Epi Martison bersama kawan-kawan lainnya memberikan pengalaman magis yang mencekam bagi pagi hariku yang rutin.
Sebuah pengalaman yang mempribadi, di mana diriku seperti dibawa ke sebuah alam raya bebunyian yang seakan berkehendak ingin menyembah dan mengagungkan Sang Penguasa alam semesta raya itu sendiri.
Tiga puluh menit yang mencekam kurasakan sedemikian intens disubversi oleh Epi untuk juga kualami, yang kemudian mau tidak mau aku pun mesti ikutan “menyembah” bersama seluruh elemen bebunyian dan gerak ritmis – terkadang mematah – dari penari yang dikerjakan (kuyakini betul) dengan penuh kesabaran, ketekunan dan kebersediaan diri untuk menunggui bunyi dan gerak, waktu demi waktu dalam latihan dan proses perekaman gambarnya, guna mencapai harmonisasi yang harmonis.
Bagai seorang maestro yang sadar diri dengan kemaestroannya (dan bersebab itu tahu diri juga dengan kelemahannya) Epi Martison, bagiku adalah persona yang memiliki kesabaran tingkat tinggi dalam menata progresi bebunyian dari satu alat musik ke alat musik lainnya yang diperbunyikannya dengan “sopan penuh etika” dalam karya garapannya ini. Tanpa kesabaran dan ketekunan yang tinggi, rasanya karya ini belum akan menjadi berarti apa-apa.
Gaung Genta adalah raungan sang maestro yang meruang ke seluruh semesta raya kehidupan sebagai sebuah undangan atau ajakan (boleh jadi juga) peringatan untuk manusia agar istiqomah menyembah kepada Tuhan Sang Pencipta kehidupan dan penentu kematian, bukan melulu arogan dan apalagi terus-terusan konsisten menyebarkan kebencian.
