Reportase : M Ihsan
Kamis pagi, 30 April 2026, tepat pukul 06.00 WIB, suasana di posko Ekspedisi Dakwah Pedalaman tampak sibuk. Empat personel tim bahu membahu memuat logistik dan paket bantuan ke dalam kendaraan. Setiap sudut ruang dipastikan terisi rapi, sebab perjalanan panjang nan menantang telah menanti di ufuk barat.
Menjangkau kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau, bukanlah perkara mudah. Tim harus bersiap menghadapi jarak tempuh yang jauh, berganti-ganti moda transportasi, hingga ancaman badai dan risiko tingginya ombak laut lepas. Setiap langkah memerlukan perhitungan matang dan terus memantau informasi cuaca yang intens demi keselamatan dan sampainya amanah.

Perjalanan dimulai jalur darat menuju Pelabuhan Buton, Siak selama empat jam. Dari sana, tim melanjutkan perjalanan laut menggunakan kapal Feri menuju Pelabuhan Sekupang, Batam selama lima jam. Dari Sekupang lanjut ke Pelabuhan Punggur, selama satu jam perjalanan. Tim beristirahat semalam di Punggur, karena keberangkatan kapal Feri menuju Tarempa dijadwalkan pada Jumat pagi.
Keesokan harinya pukul 07.00 WIB, tantangan sesungguhnya dimulai. Menggunakan kapal Feri, transit di Letung, tim mengarungi ganasnya Laut Cina Selatan menuju Tarempa selama 10 jam perjalanan. Setibanya di Tarempa sore hari, tim melanjutkan perjalanan menggunakan speedboat selama satu jam menuju pulau Matak, lalu dilanjutkan dengan menggunakan sepeda motor selama 30 menit hingga tiba di desa Payalaman.
Tabligh Akbar, Pengajian dan Penyerahan Bantuan

Setelah menempuh perjalanan dua hari, kegiatan dakwah pun dimulai. Agenda utama meliputi tabligh akbar, ceramah, tausiyah dan penyaluran bantuan berupa wakaf Al Quran, buku Iqro, sajadah imam dan zakat 100 % untuk para guru ngaji.
Amanah ini disebar ke berbagai titik lokasi, mulai dari Pulau Tarempa (desa Temburun dan Pulau Lingai) hingga pelosok Pulau Matak/Palmatak (Desa Payalaman, Piabung, Pinyali, dan Belibak).
Antusias warga terlihat jelas saat mengikuti kajian di masjid Nurul Huda, Desa Payalaman yang disampaikan oleh Ustadz Daeng Mukhlis, Mudir Ma’had Wihdatul Hikmah Pekanbaru. Suasana penuh khidmat menyelimuti jamaah yang haus akan ilmu agama.
Menjangkau Pulau Terpencil
Di hari Ahad, tim kembali membelah ombak menggunakan kapal pompong menuju Desa Belibak, salah satu pulau terluar. Berpusat di Masjid Baiturrahim, tim bersilaturrahmi dengan tokoh masyarakat dan warga setempat. Tidak hanya tausiyah, dukungan sarana ibadah berupa Al Quran dan sajadah imam diberikan di masjid tersebut.
Tak berhenti di masjid, tim melanjutkan agenda dengan berjalan kaki mengunjungi rumah-rumah tahfizh. Disana, tim menemui langsung para pejuang Al Quran-para guru ngaji- untuk memberikan santuan zakat, Al Quran dan buku Iqro.
Di bawah terik matahari yang menyengat, tim kembali menyeberang menggunakan kapal Roro menuju Pulau Tarempa. Tujuannya adalah menyalurkan bantuan sajadah imam di masjid Al Fajri desa Temburun, Siantan Timur dan melakukan pemetaan kebutuhan bagi para mualaf dan masyarakat yang memerlukan program pemberantasan buta huruf Al Quran di pulau Lingai, Siantan Selatan.

Setelah seluruh amanah tuntas tertunaikan, tim bersiap kembali ke Pekanbaru. Suasana haru mengiringi perpisahan dengan warga dan tokoh masyarakat.
Pengorbanan dan Keikhlasan
Perjalanan ekspedisi kali ini bukan hanya mengandalkan kekuatan fisik, mental, pikiran, strategi yang matang dan keberanian yang luar biasa karena perjalanan jauh dan penuh tantangan, namun di balik itu semua, tersimpan banyak hikmah, yaitu keikhlasan, daya juang dan pengorbanan di jalan dakwah.
“Saya mewakili warga mengucapkan terima kasih seluas-luasnya kepada para donatur dan tim ekspedisi yang telah bersedia berdakwah jauh-jauh datang dan memberikan bantuan ke kampung kami yang jauh di pulau terluar,” ujar Pak Udin, tokoh masyarakat setempat.

Koordinator tim, Ihsan, turut menyampaikan rasa syukur atas kelancaran kegiatan. “Semoga curahan waktu, tenaga, pikiran, dan dana dibalas Allah SWT dengan pahala yang terus mengalir dan menjadi pemberat amal sholeh di yaumil akhir kelak,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut dan memberi manfaat bagi masyarakat terisolir di pedalaman, khususnya di Riau dan Kepulauan Riau.
Alhamdulillah, seluruh rangkaian kegiatan dakwah dan penyaluran amanah dari para muhsinin berjalan lancar. Seluruh personel Tim Ekspedisi Dakwah Pedalaman kembali dalam keadaan selamat, sehat, dan tetap solid. (MI)
