Centro Riau Pekanbaru – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Riau, Kelurahan Air putih Kecamatan Tuahmadani kota Pekanbaru menggelar sosialisasi pengentasan stunting dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia khususnya pada pasangan usia subur (PUS).
Stunting merupakan kondisi dimana balita memiliki panjang atau tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan umur. Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia 2 tahun. Adapun sasaran yang di targetkan untuk sosialisasi ini ialah pasangan usia subur termasuk juga ibu hamil, dan pasangan muda produktif.
Menurut wakil pimpinan Kampung KB Tunas Harapan, bapak Sadri Abbas “Stunting harus dicegah sejak dini, salah satunya dengan perbaikan gizi pada pasangan muda produktif, dan ibu hamil. Karena sifat stunting yang sulit disembuhkan, sehingga berdampak buruk pada kualitas hidup seorang anak misalnya perkembangan otak terhambat dan kecerdasannya menurun, kemudian kesulitan dalam mencari pekerjaan dan juga pasangan.” Minggu (25 /06/2021) Pagi.
Dalam sosialisasi yang digelar, pemateri yang dihadirkan berasal dari Mahasiswa KKN Universitas Riau itu sendiri yakni Tri Angraini (Anggi) dan Nailatul fadillah (Dila) dari Fakultas Keperawatan.
Dijelaskan bahwa salah satu penyebab utama terjadinya stunting adalah kekurangan gizi kronis pada awal 1000 hari pertama kehidupan yaitu sejak awal kehamilan hingga anak berusia 2 tahun. “Jadi, untuk mencegah stunting dapat dimulai dari hal-hal sederhana seperti perbaikan pola makan, pola asuh dan sanitasi. Nah, pola makan disini artinya makan makanan yang memiliki gizi seimbang contohnya dalam satu piring sekali makan itu harus terdapat karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Pola asuh disini artinya yang dapat diterapkan langsung seperti pemberian ASI pada anak hingga anak berusia 2 tahun, pemberian MPASI, Imunisasi dan juga pemantauan tumbuh kembang anak di pelayanan kesehatan terdekat.
Sedangkan untuk sanitasi, itu bisa berupa penyediaan air bersih, terdapat fasilitas jamban di setiap rumah, serta menerapkan hidup sehat dengan mencuci tangan sebelum dan setelah berkegiatan.” Jelas anggi saat sosialiasi berlangsung.
Lebih lanjut pemateri juga memperkenalkan salah satu program dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia untuk meminimalisir prevalensi stunting di Indonesia, yaitu metode makan baru dengan gizi seimbang “ISI PIRINGKU”.
Dila menjelaskan bahwa metode makan yang di usung pemerintah ini menekankan pada porsi makanan yang ideal dengan menggunakan perumpamaan sajian dalam satu piring untuk satu kali makan. Jadi, metode makan ISI PIRINGKU berisikan tentang komponen-komponen yang harus terdapapat dalam satu piring makan, yaitu terdapat makanan pokok yang menjadi sumber karbohidrat, sayuran, lauk pauk baik nabati maupun hewani dan buah-buahan.
Selain itu juga diimbangi dengan aktifitas fisik yang baik dengan konsumsi air yang cukup.
Diharapkan dengan adanya sosialisasi pengentasan stunting ini, mampu menambah pengetahuan bagi pasangan usia subur (PUS) untuk mencegah stunting sejak dini. Ujar Tamyiz selaku ketua pelaksana.
Laporan : Reki Wahyudi (Mahasiswa Hukum)
