CENTRO RIAU Pekanbaru -Pandemi Covid menyebabkan masyarakat banyak berdiam dirumah. Dengan diterapkannya lock down menyebabkan sekolah dan aktivitas masyarakat sehari-hari terpaksa diberhentikan. Oleh sebab itu masyarakat jarang keluar rumah, dan lebih sering menghabiskan waktu dirumah.
Seiring berkembangnya teknologi, kini jual beli tidak hanya terbatas pada jual beli konvensional saja karena jual beli juga dapat dilakukan melalui media internet yang lebih dikenal dengan E-Commerce. Suatu keuntungan bagi E-commerce dikarenakan pelayanan yang mudah,cepat dan lebih efesien tanpa harus keluar rumah.
Tapi tidak hal nya dengan UMKM di Indonesia mereka merasa sangat dirugikan dikarenakan turunnya angka penjualan selama pandemi ini. UMKM (Usaha mikro kecil menengah) artinya bisnis yang dijalankan individu, rumah tangga, atau badan usaha ukuran kecil. UMKM merupakan salah satu perekonomian yang memiliki peran penting bagi indonesia yang memberikan konstribusi kepada Produk Domestik Bruto (PDB) .
Tercatat setidaknya sejak pandemi terjadi, penjualan di e-commerce naik 26% dan mencapai 3,1 juta transaksi per hari. Namun demikian angka awal 2020 pemerintah mendata baru 8 juta UMKM hadir dalam platform digital atau 13% dari total populasi UMKM, tetapi setelah pandemi sudah mulai mereda telah menginjak tahun 2021 UMKM kini telah mengalami perbaikan penjualan dan saat ini masih ada yg berusaha melanjutkan ada yang sudah berhenti total.
Pemerintah Indonesia mengatasi permasalahan UMKM dengan kebijakan Program PEN Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Program PEN pada sektor ekonomi diharapkan dapat membantu dunia usaha termasuk UMKM agar dapat pulih dan menjalankan usaha dengan normal, dan BPUM Banpres Produktif Usaha Mikro (BPUM). BPUM yang diberikan kepada para pengusaha mikro terdampak pandemi ini bersifat hibah (bukan pinjaman) dengan besar bantuan senilai Rp1,2 juta untuk setiap penerima manfaat.
Pemerintah saat ini mengharuskan para UMKM lebih kreatif dan sebaiknya pemasaran menggunakan digital agar produk UMKM lebih dikenal hingga bisa diekspor keluar negeri. Tetapi banyak nya masyarakat yang belum bijak atau mahir dalam hal teknologi dikarenakan , tingkat literasi digital yang masih rendah. dukungan infrastruktur termasuk akses internet dan jalur logistik yang belum merata.
Penulis Opini : Asel Rahma Ocsa
Mahasiswa angkatan 21 PRODI EKONOMI PEMBANGUNAN
UNIVERSITAS RIAU
