Foto : M Rehan Azmy bersama kawannya di jalan Pasar Kapau Tilatang Kamang
Centro Riau, Bukittinggi-Seni Musik Tambua Tansa muncul kali ini dimainkan oleh Siswa SMA Karya Bhakti Bukit Tinggi , Muhammad Rehan Azmy (19) bersama teman-temannya , memainkan alat musik gendang tradisional Minangkabau yang merupakan tabung kayu besar. Dengan tinggi sekitar 40-50 cm, alat musik Tambua ini akan menghasilkan bunyi dengan cara dipukul.
Seminggu yang lalu, di MDA Al-Ikhlas, Jalan Raya Pasar Kapau, Kecamatan Tilatang Kamang, Bukit Tinggi. Rehan, Mulai memaikan seni Pukulannya dengan para siswa dari berbagai sekolah.
Namun bunyi yang dihasilkan Tambua berbeda-beda tergantung dari ketebalan kayunya. Alat musik yang ditutup dengan kulit kambing dan kepala gendang pada kedua sisinya ini kemudian akan dikencangkan dengan lilitan tali. Tali pada alat musik ini juga digunakan untuk menggendong gendang ke badan Rehan dan pemain lainnya.
Kesenian Tambua Tansa dimulai untuk mengumpulkan orang banyak dalam acara perkawinan, gotong royong, dan acara adat lainnya. Dengan bunyinya yang nyaring alat musik ini digunakan untuk memanggil warga desa untuk berkumpul.
Tambua Tansa juga sering digunakan untuk menerima tamu kehormatan, seperti para pejabat dan tokoh ternama tertentu. Bunyinya akan menghipnotis para penonton yang mendengarnya bergoyang.
“Kesenian Tambua Tansa ini dimainkan oleh empat orang penabuh. Agar semakin ramai, senior Musik Tambua Tansa ini lebih disukai dimainkan dengan iringan alat musik lain seperti pupuik tanduak atau sarunai, pupuik batang padi, dan talempong.” ujar Muhammad Rehan Azmy kepada Centro Riau via Telepon genggamnya.
Sejarah perkembangan seni musik Minangkabau ini berawal dari daerah Batu Hampa, Kecamatan Lubuk Basung. Dari sini, Tambua Tansa menyebar dan dikenal luas hingga masyarakat di Kecamatan Tilatang Kamang dan juga saat ini dikenalkan kepada kalangan siswa, agar seni ini tidak Punah. (Krt)
:Muhammad Rehan Asmy (Bukittinggi)
