CENTRO RIAU Kuansing-Rasa tak percaya, apa benar? itu lah yang kurasakan saat mendengar berita Pak Wali telah pergi buat selamanya.
Ya, Karnadi sosok bersahaja rendah hati dan penuh semangat itu kini telah pergi buat selamanya. Dia tak meninggalkan apa-apa, selain cita dan cinta yang dibalut kemuliaan.
Karnadi membangun cita-cita mulia buat negeri nya Siberakun, dilandasi cinta yang tak ada duanya. “Ambo rela mati suak Ci, asal perjuangan manogakkan hak nagori go dak bonti” (Saya rela mati nanti Ci, asalkan perjuangan meneggakkan hak Kenegerian Siberakun terus berlanjut) kata Karnadi sang PakWali malam itu selepas saya dampingi menjalani Pemeriksaan di kantor Polisi.
Abang go memang lah jarang urusan lain kini Ci, sagalo tacurah kek pajuangan nagori jo. Kadang Kakak gaduah lo e ma. (Abang/Karnadi red memang sudah jarang urusan lain sekarang, semua tercurah buat perjuangan negeri. Kadang saya khawatir sekarang) Ungkap Kak Emi, sang istri PakWali akhir 2019 ketika bercerita ke saya.
Ya sesuai pengamatan langsung saya, PakWali memang selalu disibukkan oleh urusan perjuangan Tanah Ulayat dan kesejahteraan Kenegerian Siberakun, bahkan kadang sering telat pulang dan telat makan agar bisa terus mendampingi para pemuda dan ninik mamak. Di pikiran PakWali masyarakat Siberakun harus mendapatkan hak nya, mereka harus mendapatkan keadilan, ini harga mati. Semangat Karnadi yang tidak bisa saya lupakan.
Kejujuran, semangat juang, dan kerendahan hati Karnadi ternyata tak seindah cerita hidupnya. Sejak Mei 2020 PakWali gagah berani ini “dipaksa” harus bertanggung jawab atas kerusuhan di kawasan perusahaan yang tengah berkonflik dengan Kenegerian Siberakun. “Abang ikhlas Ci, biar lah abang di siko” ungkap PakWali saat saya kunjungi bersama para wakil rakyat di tahanan pihak kepoilisian saat itu.
Saya yang hampir selalu bersama sang PakWali merasakan betul bagaimana tekad beliau kala itu. Audiensi demi audiensi sudah sampai di Gubernur Riau, dan sudah banyak simpati yang Sang PakWali terima. Bahkan Wakil Rakyat tingkat pusat juga sudah berkali-kali melihat derita masyarakat Kenegerian Siberakun, itu lah pilu saya itu lah tangis saya, ungkap Sang PakWali sore itu di tepi parit gajah yang membelah negerinya.
Karnadi, Sang PakWali, mungkin hari ini engkau pergi di mata para pembenci, tapi tidak buat kami. Kami yakin tulus mu tak kan pernah tergerus meski nafas tak lagi berhembus. Suatu hari negeri ini kan membuat mu tersenyum bangga di sana. Terus lah bersamai kami PakWali. We love you Karnadi.
Marpoyan, Maghrib 18 Mei 2021.
Asri Mohd. Zen Shabihi
Pengagum PakWali, Pemuda Siberakun di Rantau.
