CENTRO RIAU Kuansing- Tokoh muda Kabupaten Kuansing dan penggiat pendidikan daerah, Rizki Erlando ‘Bongi’, karena, Kuansing kehilangan Banyak bantuan pusat dari Dana intensif untuk guru sekolah tertinggal. Seperti di Kecamatan Cerenti.
Rizki Erlando menjelaskan “Melalui Surat edaran Kemendikbud, hanya tersisa 4 sekolah di Kuansing yang dibantu. Sebelumnya, puluhan sekolah di Kuansing dapat bantuan tersebut, saya heran! kenapa bisa hilang? setahu saya, Masih banyak sekolah, yang seharusnya tidak hilang, jadi hilang!.” Ujar Riski Erlando kepada media, pada Selasa, 3 Agustus 2021, pukul. 22.00 WIB.
Pemuda dengan ciri khas berkacamata ini menjelaskan “Bantuan intensif contohnya, sekolah Pulau Jambu di kecamatan Cerenti. Akses menuju sekolah tersebut, guru menyebarang sungai menggunakan perahu (kompang). untuk Turun tak ada dermaga. jadi, guru harus menyisir (mengarung) tepi sungai dengan melepas sepatu dan mengeker melipat celana bagian bawah, supaya tidak terkena air.” Tambah anak muda pejuang pendidikan ini.
Kalau air Sungai debitnya besar, sekolah terendam, banjir sepinggang orang dewasa dan itu hampir tiap tahun banjir, karena, sekolah SDN 003 Pulau Jambu kecamatan Cerenti,ckabupaten Kuansing, Provinsi Riau tersebut, berada ditepi sungai.
Saya yakin, masih banyak sekolah Yang layak dibantu di Kuansing, seperti, SD 003 tersebut. Tapi, sudah dicabut bantuanya, karena, data tidak singkron, saya ingin segera pemerintah daerah Kuansing, mendudukan masalah ini, karena! Ada tidak singkron laporan data desa tertinggal antara pemerintah desa ke kementerian desa tentang status desa yang belum maju, tapi, terkesan dipaksa maju, “jelasnya ke awak media.
“Imbasnya, masyarakat dan sekolah tidak dapat bantuan lagi. Harusnya, kita contoh di kabupaten lain, seperti Inhil, malah kuotanya 110 sekolah dibantu, kita Kuansing hanya 4 sekolah.” Ucap Riszki Erlando yang saat ini lagi dalam pendidikan S2 di Jakarta .
“Diantaranya 2 sekolah dikecamatan Inuman, 2 sekolah dikecamatam Pucuk Rantau. Sebelumnya, hampir semua kecamatan dapat. Saya tidak habis pikir kalau bantuan ini hilang, apalagi, bantuan ini tidak menggunakan Dana daerah, tapi pakai dana Pusat, setiap guru hampir dapat 10 juta pertiga bulan, bayangkan saja, banyak sekolah diKuansing tidak dapat, Karena hanya salah data, kasian gurunya, ngajar didaerah terpencil, resiko tinggi, tapi bantuanya hilang” tutup Erlando dengan menghela nafas panjang.
