CENTRO RIAU PEKANBARU -Wahyu yang pertama kali diturunkan Allah SWT, kepada Nabi Muhammad S.A.W adalah Iqra. Secara umum, Iqra diartikan sebagai perintah untuk membaca.
Tausiah Singkat Buka Puasa DPD-ASPARNAS Riau bersama Pengelola TRAM dan Jajaran. (21/4/2022) di Pekanbaru.
Dirangkum oleh salah satu pengurus Afifi Ishadi, SE.MM apa yang disampaikan oleh Dr. Zulkarnain, SH.MH dalam tausiah singkatnya saat buka puasa DPD-ASPARNAS Provinsi Riau bersama Pemilik dan pengelola Taman Rekreasi Alam Mayang (TRAM) Drs. Riyono Gede Trisoko, MM, Iqra berasal dari kata qaraa-yaqrau-qiraah yang artinya membaca, menghimpun, mendalami, meneliti, dan mengetahui ciri-cirinya. Dengan kata lain, perintah iqra tidak hanya membaca tulisan, tetapi juga dengan pendalaman situasi atau fenomena sosial yang terjadi.
Dalam kita menjalani 10 hari puasa terakhir ini bagaimana puasa tahun ini dapat merobah kita menjadi umat yang bertaqwa dan menjadi umat yang bermanfaat buat orang banyak.
Secara sunnatullah yang berpuasa sesungguhnya tidak hanya orang mukmin saja. Beberapa jenis makhluk hidup melakukan puasa juga sebelum mendapatkan kualitas dan kelangsungan hidupnya. Banyak contoh, misalnya puasanya induk ayam yang mengeram sehingga mengubah telur menjadi makhluk baru yang berbeda bentuk yang disebut anak ayam.
Kepada seluruh pengurus yang hadir Zulkarnain Ketua Dewan Pendidikan Riau periode lima tahun lalu itu berpesan agar dapat mengambil kebaikan dari ibrah (pelajaran) yang diberikan Allah melalui binatang tersebut.
Di antara sekian banyak puasa hewan yang dapat kita ambil pelajaran agar puasa kita mencapai derajat taqwa, ialah puasanya ULAR dan puasanya ULAT,” ungkapnya.
Agar ular mampu menjaga kelangsungan hidupnya, salah satu yang harus dilakukan adalah harus mengganti kulitnya secara berkala. Namun tidak serta merta ular bisa menanggalkan kulit lama. Ia harus berpuasa tanpa makan dalam kurun waktu tertentu. Setelah puasanya tunai, kulit luar terlepas dan muncullah kulit baru.
“Dari puasa ular kita dapat melihat bahwa wajah ular sebelum dan sesudah puasa tetap sama. Nama ular sebelum dan sesudah puasa tetap sama yakni ULAR. Makanan ular sebelum dan sesudah puasa tetap sama, cara bergerak sebelum dan sesudah puasa tetap sama. Tabiat dan sifat sebelum dan sesudah puasa juga tetap sama,” ungkapnya.
Sedangkan ulat yang berhasil puasa dalam masa kepompong akan berubah wujud menjadi kupu-kupu yang indah yang sama sekali berbeda bentuknya, cara bergeraknya, jenis makanan dan cara makannya, hingga perilaku lainnya, lanjutnya.
“Ibroh dari puasanya ulat, wajah ulat sesudah puasa berubah menjadi lebih indah. Nama ulat sesudah puasa berubah menjadi Kupu-kupu. Makannya ulat sesudah puasa berubah menjadi mengisap madu. Cara bergerak ketika masih jadi ulat menjalar, setelah puasa berubah terbang di awang-awang. Tabiat dan sifrat berubah total. Ketika masih jadi ulat menjadi perusak alam, begitu menjadi kupu-kupu menghidupkan dan membantu kelangsungan kehidupan tumbuhan dengan cara membantu penyerbukan bunga,” jelasnya.
Menurutnya, dari dua telaah tersebut dapat ditarik sebuah pelajaran yang dapat diambil oleh manusia khususnya umat Islam yang melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadan ini.
“Puasa Ramadan diharapkan memberikan manfaat yang baik kepada yang melaksanakannya, baik untuk pahala di akhirat maupun menjadikan manusia taqwa yang memberi manfaat kepada orang lain – khairunnaas anfa’uhum linnaas (sebaik-baik manusia ialah yang dapat memberikan manfaat bagi manusia lainnya),” pungkasnya. Krt.
