CENTRO RIAU –Seorang gadis dengan rambut berantakan terlihat baru bangun dari tidurnya, termenung dengan jutaan rintik hujan yang jatuh pagi ini, ia melihat keluar jendela yang masih gelap karena hujan yang tak henti dari tadi malam. Setelah puas melihat tetesan air dari langit itu sang gadis kini beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Setelah menyelesaikan ritual paginya, sang gadis memakai seragam berwarna putih abu-abu. Terlihat sebuah nametag bertuliskan “Rainy Adeline”. Dengan tas ransel berwarna pink, Rain turun ke lantai bawah untuk sarapan dan menyapa ayah dan bundanya.

“Good morning Ayah paling ganteng sedunia.” Sapa Rain pada sang ayah yang sedang membaca koran di meja makan sambil minum kopi. “Morning princess kesayangan Ayah.” Balas sang ayah dengan senyum manis saat malihat kearah putri kesayangannya.
Rain celingak-celinguk memandang keseluruh sudut ruang makan mencari bundanya. “Ayah, Bunda mana?” Tanya Rain pada ayahnya. “Bunda disini sayang!.” Seru yang bunda keluar dari dapur dan berjalan menuju ruang makan. “Good morning Bunda.” Sapa Rain pada bundanya yang baru datang dari dapur. “Morning sayang, ayo sarapan dulu. Nanti telat ke sekolahnya” kata sang bunda sambil menguangkan susu ke gelas, dan memberikannya kepada Rain. “Makasi Bunda.” Ucap Rain sambil mengulurkan tangan meraih gelas yang diberikan oleh bundanya. Setelah selesai sarapan, Rain pun bergegas pergi ke sekolah diantar oleh pak Maman supir keluarga
Saat sampai di sekolah dia terlihat sedikit menggerutu karena rambutnya yang basah terkena hujan. Tapi tiba-tiba dia tersenyum karena melihat seseorang yang sangat dikenalnya sedang berjalan di koridor. Seorang pemuda dengan tinggi 180 cm menggendong ransel berwarna hitam di punggungnya, memakai hoodie berwarna navy. Dengan tergesa-gesa Rain mengejarnya, dan sesekali memanggil sang pemuda. “Langit!” serunya.
Merasa ada yang memanggilnya sang pemuda menoleh kebelakang, dan melihat seorang gadis dengan tinngi sebahunya sedang berlari-lari kecil kearahnya sambil menampilkan senyum yang sangat manis. “jangan lari, nanti jatuh” ucapnya dengan nada datar, seperti biasa. Sang gadis hanya tersenyum mendengar ucapan pemuda yang dia panggil Langit itu. Dia merasa maklum dengan nada datar yang keluar dari mulut Langit, karena Langit memang terkenal cuek dan datar.
“Kamu tumben cepat datang, aku ga lihat kamu dari gerbang. Kamu dari mana?” Tanya Rain pada Langit.
“Dari ruang seni.” Jawab Langit datar. Sambil mengacak-ngacak rambut Rain yang basah terkena hujan. Rain merasa pipinya menjadi panas saat Langit mengacak-acak rambutnya yang basah. Setelahnya hanya keheningan yang terdengar, karna Rain tidak mencoba bertanya lagi, karena masih merasa salah tingkah dengan perlakuan Langit padanya dan Langit pun terlihat acuh tak acuh kepada Rain.
Langit Awandra, dia merupakan seorang pemuda berwajah datar yang selalu menghabiskan waktunya di depan kanvas dan palet cat di tangannya. Dia suka melukis, menurutnya melukis adalah satu-satunya cara untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan. Dan seorang Rainy Adeline akan selalu ada disampingnya saat dia melukis dengan segala pertanyaan dan cerita random yang dilontarkan gadis itu.
Rain menyukai Langit, sepertinya itu bukan lagi sebuah rahasia karna semua orang mengetahuinya. Rainy si periang dan Langit si kulkas seratus pintu. Rain merasa sedikit putus asa, Langit Awandra terlalu sulit untuk digapai seorang Rainy Adeline. Rain menyukai Langit sejak pertama menginjakkan kaki di SMA sebagai anak pindahan dari luar kota.
Mereka berdua terus berjalan dengan beberapa pertanyaan random yang keluar dari mulut Rain, seperti biasa Langit menanggapinya dengan jawaban singkat bahkan hanya dengan deheman. Sebenarnya, Rain mengetahui sikap Langit yang sangat dingin padanya. Tapi menurut Rain itu bukan masalah besar, Rain yakin dia bisa mencairkan kulkas seratus pintu ini. Tapi, sampai kapan Rain akan bertahan dengan sikap Langit yang acuh tak acuh padanya.
Saat sampai di kelas Langit langsung duduk di bangkunya tanpa memperdulikan Rain, Rain hanya bisa menghela napas dan kemudia tersenyum kea rah teman-temannya.
“Morning guys!” sapa Rain kepada teman-teman di kelasnya
“Morning Rainy!” balas teman-temannya, tentu saja kecuali Langit.
Rain duduk di bangkunya, di sebelahnya ada Senja. Dia adalah teman pertama yang didapatkan Rain saat sampai di sekolah barunya, karena Senja adalah teman sebangkunya. Rain masih memiliki dua teman lagi, Luna dan Zee. Menurut Rain, Senja adalah teman yang sangat rendah hati dan bersikap dewasa. Luna juga baik, tapi terkadang terlalu baik sehingga mudah untuk di bodoh-bodohi. Luna terlalu polos pikir Rain. Dan Zee, dia cewek tomboy pemegang sabuk hitam Taekwondo. Mereka bertiga selalu ada untuk Rain dan selalu membantu Rain, mereka mengetahui perasaan Rain pada Langit terkadang mereka merasa sedikit kasihan pada Rain yang tidak pernah direspon oleh Langit. Tapi sebagai sahabat, mereka hanya bisa memberi semangat pada Rain untuk mencairkan es tampan satu ini.
“Morning Senjaa!” sapanya pada senja yang sedang membaca novel.
“Morning!” balas Senja dengan senyuman dan menutup novel yang dibacanya.
“Tadi aku bareng sama Langit loh ke kelas!” seru Rain dengan wajah berseri-seri. Teman-temannya hanya menghela napas. Mereka lelah melihat Rain yang terus mengejar Langit dari kelas 10, tapi sampai sekarang masih belum di hiraukan oleh Langit. Langit selalu mengabaikan Rain.
“Rain suka banget ya sama Langit?” Tanya Luna pada Rain, dia merasa Rain selalu bersemangat dan matanya terlihat berbinar-binar jika membahas Langit. Walaupun mereka tau Langit tidak pernah melihat kearah Rain sedikitpun. Sebagai teman, Luna tentu sedih melihat temannya tidak pernah dilirik oleh orang yang dia suka.
Rain sebenarnya mengetahui jika teman-temannya merasa tidak suka jika Rain terus mengejar Langit, tapi dia akan membuktikan kepada teman-temannya bahwa dia pasti bisa membuat es itu mencair.
“Ehe, suka banget. Tapi sayang Langit ga pernah lirik aku yah” ucapnya dengan nada lesu. “Kayaknya aku bakal coba satu kali lagi, aku bakal ungkapin perasaan aku ke Langit!” ucapnya kembali bersemangat, walaupun sedikit tidak yakin. “Kalau Langit nolak aku, aku bakal berhenti deketin dia. Aku janji” lanjut Rain yang terdengar sendu. Dan teman-temannya pun terlihat sendu karena memikirkan perasaan Rain.
“Sudah, jangan sedih-sedih dong. Hari ini kan hari terakhir kita ujian akhir, kita harus happy-happy dong, nanti pas udah lulus harus sering hangout bareng ya” ucap senja mencairkan suasana.
Saat pulang sekolah, Rain mencoba mencari keberadaan Langit. Rain berjalan ke ruang seni, tempat yang biasanya di datangi oleh Langit. Benar saja, di sana ada Langit yang sedang melukis di depan jendela menghadap ke taman di depan ruang seni.
Rain ingin masuk, tapi merasa ragu. Dia tau pasti Langit akan mengacuhkannya, walaupun Rain mengajaknya berbicara. Tapi Rain merasa dia harus berbicara dengan Langit, Rain harus tau kan apakah dia tetap mengejar langit atau berhenti?
Rain mendorong pintu di depannya dengan pelan, dia melihat Langit yang terlihat sangat serius dengan pekerjaannya. “Hai Langit!” sapanya mencoba tetap tenang padahal jantungnya sedang deg-degan.
Langit hanya membalasnya dengan deheman kecil. Rain merasa udara disekitarnya makin berat, tapi dia harus mengatakan sesuatu pada Langit. Walaupun dia merasa Langit telah mengetahuinya, tapi Rain tetap harus mengatakannya kan? Dia juga ingin tau apakah Langit memilki perasaan yang sama kepada Rain.
“Emm… Langit, aku mau ngomong sesuatu” ucap Rain dengan gugup. Mendengar ucapan Rain, Langit pun menoleh, dia merasa aneh dengan Rain yang terlihat gugup tidak seperti biasanya. “Mau ngomongin apa?” Tanya langit.
“Aku suka kamu!” ucap Rain sangat cepat, tapi masih terdengar jelas oleh Langit. Keduanya mematung di tempat, Rain hanya bisa menunduk sambil meremas jari-jari tangannya. Langit terdiam, dia tau kalau Rain menyukainya tapi dia tidak menyangka Rain akan mengutarakan perasaannya sekarang.
“Gue ga-” “STOP! Kamu jangan jawab sekarang!” ucap Rain memotong perkataan Langit. “Kalau kamu juga suka sama aku, walaupun itu ga mungkin. Aku mau kamu datang ke danau nanti sore. Kalau kamu ga datang artinya kamu ga suka aku.” setalah mengucapkan itu Rain berlari sekuat tenaga meninggalkan Langit sendirian di ruang seni.
Langit terdiam sejenak, kemudian melanjutkan lukisan yang dibuatnya. Dia merasa tidak perlu terlalu memikirkan perasaan Rain padanya. Dia tidak akan datang ke danau, walaupun dia merasa ada yang mengganjal di hatinya jika tidak pergi menemui Rain. Ditepisnya rasa mengganjal tersebut dan fokus ke lukisannya.
Rain duduk sendirian di bangku tepi danau, menikmati pemandangan senja yang sangat indah. Dia berharap Langit datang, walaupun dia sebenarnya yakin Langit tidak akan pernah datang. Karna Langit tidak pernah memikili perasaan padanya, dia tau itu. Tapi kenapa dia tetap berharap langit menyukainya.
“Langit ga datang ya,” ucapnya sendu sambil melihat pantulan senja di permukaan danau. “Kok aku sedih sih, kan aku sudah memperkirakan apa yang terjadi. Aku udah tau kalau Langit ga bakalan datang. Tapi, kenapa aku tetap kecewa?” Tanpa sadar Rain menitikkan air matanya.
Rain beranjak dari bangku tersebut dan memutuskan untuk pulang. Seharusnya dia sadar, tidak seharusnya dia menyatakan perasaannya yang dia sudah tau jawabannya dan untuk apa dia menunngu Langit disini.
Rain melangkah memasuki rumahnya dengan gontai, dengan lesu Rain berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Sesampainya di kamar Rain langsung merebahkan dirinya di kasur dan menutup wajahnya dengan bantal dan mulai menangis lagi.
Setelah merasa cukup lama menangis dan juga sudah merasa sedikit tenang, Rain pun beranjak dari kasur menuju kamar mandi, dia harus membersihkan diri setelah pulang sekolah bukan?. Setelah menunaikan ritual mandinya Rain berjalan menuju balkon kamarnya, dia masih merasa sedih karena harus menerima kenyataan kalau Langit tidak menyukainya dan tidak ada kesempatan untuknya.
“gapapa deh kalau Langit ga suka aku, itu kan hak dia. Aku ga bisa maksa orang lain suka aku kan. Tapi, tetap rasanya tetap sakit.” Ucapnya sambil menghela napas. “Aku ga boleh sedih begini! Aku pasti bisa lupain Langit. Aku bakal coba lupain Langit walaupun emang bakal sulit!” ucapnya mencoba meyakinkan diri sendiri.
Setelah membulatkan tekad untuk move on dari Langit, Rain berencana untuk sementara waktu menjauh dari Langit. Guna meminimalisir gagalnya rencana move on yang telah ia rencanakan. Ia akan mulai menjauhi Langit besok saat di sekolah, Rain berencana untuk menghindar dari Langit. Toh, Langit pasti juga tidak akan menyadari jika ia menghilang bukan, bukan kah langit tidak pernah menganggapnya ada.
Kini langit sedang berada di ruang seni melukis seperti biasanya, sudah beberapa hari setelah Rain mengungkapkan perasaan padanya, dan sampai saat ini dia belum melihat Rain datang kesekolah. Dia hanya melihat teman-teman Rain di kelas tanpa Rain, dia merasa ada yang janggal jika tidak melihat Rain mengganggunya melukis, tiba-tiba dia tersenyum mengingat tingkah lucu Rain. Sepertinya dia sedikit merindukan gadis itu.
Karena pikirannya yang sedikit kacau sekarang Langit memutuskan untuk beranjak dari tempatnya dan memilih pindah ke taman saja, melihat murid-murid yang lain mempersiapkan acara perpisahan mereka. Langit duduk di salah satu bangku taman sambil melihat teman-temannya yang lain, matanya melihat siluet gadis yang sedang ia pikirkan dari tadi. Dia melihat Rain sedang berbicara dengan seorang cowok yang sepertinya bukan dari kelas mereka. Langit terus memperhatikan Rain dan cowok itu dengan perasaan yang bergejolak, karna Rain terlihat sangat akrab dengannya dan Langit sedikit merasa tidak senang.
Saat sedang memperhatikan Rain dengan cowok tersebut, tanpa terduga Rain ternyata juga tengah melihat ke arah Langit. Ketika kedua netra mereka bertemu, Langit melihat Rain dengan intens hal tersebut membuat Rain menjadi salah tingkah dan memutuskan kontak mata mereka. Rain pun beranjak dari tempatnya sambil menarik pergelangan tangan cowok di sebelahnya. Melihat hal tersebut tanpa disadari Langit mengepalkan tangannya dan menatap tajam kea rah Rain dan cowok tersebut.
“Kalau suka tuh bilang, jangan dicuekin terus. Liat dia sama yang lain cemburu kan lo!” tiba-tiba saja Danu, sahabat Langit datang sambil mengatakan hal tersebut. Langit terdiam memikirkan perkataan Danu, apakah dia cemburu melihat Rain dengan orang lain. Tapi Langit memang merasa tidak senang melihat orang tersebut bercanda bersama Rain, melihat Rain tertawa bersama orang tersebut rasanya Langit ingin memberi bogeman dipipi cowok tersebut. Tapi lagi-lagi Langit menyangkal semua perasaan yang ia rasakan, tidak mungkin ia menyukai Rain, dia hanya menganggap Rain sebagai teman saja. Tidak lebih.
“Ngomong apaan sih?!” sahut Langit tidak senang mendengar ucapan Danu. “Lo sebenarnya suka kan sama Rain? Kenapa ga jujur aja. Sebelum Rain benar-benar nyerah dan milih yang lain”. Langit kembali terdiam mendengar ucapan Danu, benarkah dia menyukai Rain?
Langit pun meninggalkan Danu yang sedang tersenyum melihat hal yang dilakukan Langit, Danu merasa cowok dingin itu sangat bodoh tidak bisa menyadari perasaannya sendiri. Sebenarnya Danu mengetahui Langit sudah suka pada Rain sejak dulu, Langit sering memperhatikan Rain dari jauh dan ekspresinya akan berubah kesal jika melihat Rain berbicara dengan cowok lain. Tapi kenapa Langit tidak menyadari perasaannya tersebut, dan selalu bersikap dingin kepada Rain.
Langit berjalan menuju kelas dengan perasaan kesal dan gelisah memikirkan apa yang dikatakan oleh Danu tadi, apakah dia cemburu Rain bersama orang lain? Dia harus bicara dengan Rain sekarang. Langit berlari menuju lapangan untuk mencari keberadaan Rain. Langit rasa, dia butuh gadis itu, Langit membutuhkan Rain dalam hidupnya.
Kenapa dia baru menyadari sekarang, dari dulu dia bersemangat melukis karena ada Rain yang selalu menemaninya dengan berbagai celoteh ringan dari gadis itu. Dan sekarang Rain tidak pernah menemuinya di ruang seni lagi, hal tersebut membuatnya merasa tidak bersemangat dalam melukis lagi. Seharusnya dia menyadari perasaannya sejak dulu. Dia telah menyakiti perasaan Rain. Seharusnya dia menemui Rain di danau hari itu. Dia merasa sangat menyesal tidak menemui Rain dan juga merasa malu, seharusnya dia yang menyatakan perasaanya pada gadis itu bukan malah sebaliknya. Langit harus segera menemui Rain.
Saat sampai di lapangan Langit tak lagi melihat Rain disana, Langit melihat Senja, Luna, dan Zee sedang mendekor panggung. Dia memutuskan untuk menghampiri gadis-gadis itu.
“Kalian tau Rain dimana?” Tanya Langit tanpa basa basi dengan nada tidak sabaran. Mereka mengernyitkan dahi melihat Langit yang tergesa-gesa mencari keberadaan Rain, apakah Langit kesurupan, kenapa dia mencari Rain. “Ngapain nyari Rain?” balas Zee dengan nada judes dan sengit.
“Tolong kasih tau Rain dimana, please” ucap Langit dengan nada memelas dengan perasaan cemas. Hal tersebut membuat gadis-gadis itu tertegun melihat Langit yang terlihat cemas karena tidak melihat Rain. “Rain pulang, di telfon orang tuanya” jawab Senja dengan senyum simpul, sepertinya Langit mulai menyadari perasaannya sendiri. Baru Langit ingin melangkah pergi tapi terhenti oleh perkataan Zee “Telat! Jangan mencari Rain, Rain sudah pergi. Pesawatnya berangkat 5 menit lagi, kamu ga bakal bisa nyusul dia dan juga ini salah mu sendiri, kamu tau berapa lama Rain menunggu mu di danau? Seharusnya kamu sadar dari dulu bukan sekarang Langit”.
Langit terdiam mendengar ucapan Zee, “Maksud lo apa? Rain pergi kemana? Gue bakal minta maaf ke Rain” Tanya Langit tak sabaran, sekarang dia merasa sungguh menyesal tidak datang ke danau waktu itu. Seharusnya dari dulu dia tidak mengabaikan Rain. “Nenek Rain sakit, jadi Rain harus pindah bersama orang tuanya untuk menjaga Nenek” jawab Luna sendu, dia merasa sedih harus berpisah dengan sahabatnya. Dan merasa kasihan pada Langit. “Dia pindah kemana? Kemana pun dia pergi pasti gue susul” ucap Langit.
“Kami ga tau, Rain ga mau bilang. Sepertinya dia sengaja ingin menghilang dan melupakan hal-hal yang membuatnya sakit. Sudahlah Langit biarkan dia sendiri, jika kalian memang berjodoh pasti akan bertemu lagi”. Kata Senja mencoba menenangkan Langit walaupun sepertinya itu tidak berhasil, setelah mengatakan itu Senja dan teman-temannya meninggalkan Langit yang masih terdiam mencerna apa yang telah terjadi.
Langit merasa benar-benar kecewa pada dirinya sendiri, kenapa dia selama ini tidak menyadari perasaannya sendiri dan kenapa dia kemarin tidak datang ke danau. Dia tidak tau berapa lama gadis cantik itu menunggunya di danau kemarin. Dia sungguh menyesal.
Tiga tahun kemudian.
Seorang gadis cantik memakai dress peach selutut baru saja keluar dari bandara, ia menghela napas lalu tersenyum dengan sangat manis. Akhirnya ia kembali kesini, setelah tiga tahun meninggalkan Indonesia, ia kembali lagi dengan membawa perasaan yang masih sama seperti tiga tahun lalu. Ia masih menyukai pemuda itu, pemuda yang membuatnya jatuh hati karena sifat dingin tapi perhatiannya. Rainy Adeline masih menyukai Langit Awandra.
Rain yang sedang termenung mengingat masalalu terperanjat kaget ketika tiba-tiba ada orang yang meneriaki namanya. Rain pun tersenyum ramah saat melihat orang yang memanggilnya, karena yang memanggilnya adalah ketiga sahabatnya Senja, Luna, dan Zee. “Rain suka banget ya tiba-tiba hilang, tiba-tiba datang. Beneran kayak hujan, tapi untung ga ada geledeknya.” Ucap Luna pertama kali saat bertemu kembali dengan Rain.
“Heh Luna, bukannya nanyain keadaan Rain malah langsung bilang gitu.” Sembur Zee pada Luna. Mendengar hal tersebut Luna cuma merengut. Sedangkan Senja dan Rain tertawa geli melihat interaksi mereka berdua.
“Hehe, maafin aku ya guys. Waktu dapat kabar Nenek sakit aku, Ayah, sama Bunda panik banget. Ga sempat bilang waktu itu, soalnya Nenek harus langsung dibawa ke London dan menjalani pengobatan di sana.” Ucap Rain mencoba menjelaskan kepada teman-temannya.
“Gapapa Rain, kami ngerti kok. Tapi kami tentu saja merasa panik waktu Rain ga ngomong mau kemana ga bisa dihubungi juga.” Ucap Zee pada Rain dengan sendu.
“Udah, semua sudah berlalu guys. Sekarang Rain juga udah balik ke Indonesia. Terus sekarang kabar Nenek Rain gimana? Rain pulang sendiri?” Tanya Senja penuh perhatian.
“Sebenarnya, Nenek, Ayah, sama Bunda udah pulang dari tahun lalu.” Ucap Rain menjelaskan kepada teman-temannya. “Terus kenapa Rain ga pulang bareng mereka? Kok baru pulang sekarang?” Tanya Luna merasa heran. Kenapa temannya ini tidak pulang dari tahun lalu. Kenapa baru pulang sekarang.
“Aku belum siap untuk pulang.” Ucap Rain dengan tertunduk. “Belum siap pulang atau belum siap ketemu Langit?” Goda Senja pada Rain. “Iiihh, apa sihh. Aku ga pernah ingat Langit lagi tau” ucap Rain mencoba membela diri.
“Udah, ga usah banyak alasan deh Rain. Kami tau kok Rain masih suka sama Langit, ciee” ucap Zee pada Rain. Rain hanya bisa membuang muka mendengar ucapan temannya itu. Memang betulkan apa yang dikatakan teman-temannya, Rain masih suka sama Langit. Dari dulu Rain tidak pernah melupakan Langit. Dan alasan Rain tidak pulang bersama keluarganya ke Indonesia juga karena belum siap bertemu lagi dengan Langit. Makanya Rain memutuskan mengambil kursus memasak selama setahun di London.
“Rain tenang aja. Langit juga suka Rain kok!” ucap Luna dengan excited. “Hah?! Maksudnya gimana? Ga mungkin lah Langit suka aku, dia cuma anggap aku teman aja. Aku pun sekarang udah bisa menerima kok kalau Langit ga suka aku, aku ga bakal lari dari kenyataan lagi.” Ucap Rain terkejut mendengar ucapan Luna.
“kalau kamu ga percaya, ayo ikut kami. Kami mau kesuatu tempat. Pasti kamu suka dehh dan kamu juga bakal tau kebenarannya.” Ucap Senja dengan senyuman manisnya. Rain memandang teman-temannya dengan perasaan heran, apa yang terjadi pada mereka? Bukankah mereka tidak suka jika Rain dekat dengan Langit. Tapi sekarang, seperti mereka yang bersemangat menyatukan Rain dan Langit.
“Yaudah, ayo! Emang kalian mau ngajak kemana sih?” Tanya Rain kepada ketiga temannya. “Kita bakal ke sebuah galeri lukisan. Kita bakal lihat pameran lukisan, yang mungkin bisa merubah keputusan kamu buat ikhlasin Langit.” Ucap Zee penuh percaya diri. Rain merasa deg-degan mereka akan melihat pameran lukisan siapa? Dan apa hubungannya dengan keputusan Rain?
Terlihat seorang pemuda yang sedang berdiri di depan sebuah lukisan yang tergantung di sebuah ruangan, pemuda itu melihat ke arah lukisan dengan pandangan yang sendu. Di lukisan itu terlihat seorang gadis yang memegang sebuah payung di tengah rintik hujan. Dia teringat pada gadis yang sudah mengisi hatinya sejak dulu, tapi dia telah melukai perasaan gadis tersebut. Pemuda tersebut menoleh ke belakang ketika mendengar seseorang memanggil namanya
“Langit! Ayo, sudah banyak yang datang” ucap Danu sahabat Langit. Langit pun beranjak menuju sahabatnya tersebut. Hari ini Langit membuka pameran koleksi lukisan yang dibuatnya sendiri. “Lo bisa tangani mereka sebentar? Gue masih ingin disini sebentar lagi”. Ucap Langit pada Danu. Danu yang mengerti perasaan Langit pun memutuskan meninggalkan Langit.
Dipintu depan galeri Danu bertemu dengan Rain dan teman-temnnya. Danu terkejut sekaligus bahagia saat melihat Rain, dia bahagia karena Rain telah kembali. Itu artinya Langit bisa meminta maaf kepada Rain, dan Langit bisa mengungkapkan perasaannya kepada Rain.
Rain sedikit terkejut melihat lukisan yang dipamerkan di galeri, dia merasa tidak asing dengan semua objek yang dilukis. Seperti salah satu lukisan yaitu lukisan seorang gadis yang memegang bunga Lily of the Valley. Bunga tersebut adalah bunga kesukaan Rain, dan sebuah lukisan danau yang sangat indah. Rain ingat, itu adalah danau dimana dia menunggu Langit dulu saat masih SMA.
“Ga asing kan sama semua lukisan disini?” Tanya Danu pada Rain, dia tersenyum geli melihat Rain yang heran dengan semua lukisan yang ada di galeri. Tentu saja heran, semua yang lukisan yang dipamerkan disini merupakan lukisan yang dibuat oleh Langit. Semua lukisan memiliki makna tersendiri, yaitu semuanya berhubungan tentang Rain.
“Langit ya?” Tanya Rain kepada Danu. “Lalu siapa lagi orang yang akan menghabiskan waktu tiga tahun hanya untuk melukis semua hal tentang Rainy Adeline, tentu saja Langit Awandra. Dia memang cuek, tapi dia tetap memperhatikan dan mengingat semua hal yang ia lalui dengan Rain, walaupun dia terlambat menyadari perasaannya.” Jelas Danu pada Rain yang sudah berkaca-kaca.
“Jangan nangis dulu dong Mba Hujan, coba deh ke lorong itu. Disitu ada lukisan yang lebih special.” Ucap Danu menunjuk lorong yang ada di depan sana. Dengan ragu Rain pun berjalan menuju lorong tersebut sambil mengamati semua lukisan yang ada di sana. Di ujung lorong Rain melihat seorang pemuda yang tengah memperhatikan sebuah lukisan didepannya. Tanpa diberitahu siapapun Rain sudah tau siapa pemuda di depannya. Langit! Jeritnya dalam hati, dan lukisan didepannya adalah, Rain!. Langit melukis dirinya? Dan dari tadi memperhatikan lukisan tersebut?! Seketika pipinya memanas melihat pemandangan di depannya.
Sedangkan Langit terus memperhatikan lukisan yang sejak tadi dilihatnya tanpa menyadari ada seseorang yang memasuki ruangan. Seorang gadis memakai dress peach selutut sedang memperhatikan Langit yang masih betah memandangi lukisan. Sang gadis tersenyum singkat melihat pemuda yang selama ini ia rindukan, dia tidak bisa melupakan bahkan membenci Langit.
“Lukisan yang indah” ucap sang gadis sambil tersenyum manis dan melangkah mendekati Langit. Langit tertegun, dia merasa mengenal suara lembut itu, suara yang selalu ia rindukan. Langit pun menoleh kebelakang dan melihat seorang gadis cantik yang sedang tersenyum manis kepadanya.
“Rainy…” gumamnya pelan lalu berjalan untuk memeluk gadis yang ia rindukan itu. “Rainy you’re back” ucap langit merasa sedikit tidak percaya bisa melihat Rain lagi. Rain yang mendengar itu hanya berkekeh singkat dan menjawab “Yes, I’m back”. Cukup lama mereka berpelukan lalu Rain melihat lukisan yang dari tadi dilihat oleh Langit.
“Maafin aku Rainy, maaf aku nyakitin perasaan kamu, maaf aku ga datang ke danau hari itu, maaf untuk semuanya” ucap Langit panjang lebar pada Rain, dia benar-benar menyesal menyakiti perasaan Rain.
Rain pun tersenyum, lalu mengatakan “Kamu ga perlu minta maaf, aku udah ga mikirin itu lagi”. Rain menjeda ucapannya “Sebenarnya aku ga mau ninggalin kamu sama yang lain, tapi aku rasa aku juga butuh waktu untuk menenangkan diri”. Sambung Rain setelah itu.
Langit terus memandangi wajah Rain, pipi Rain sampai memerah karena malu dipandangi terus oleh Langit. Tidak biasanya Langit berkingkah seperti ini, Langit berubah dia tidak terlihat seperti kulkas seratus pintu lagi.
Karena salah tingkah Rain pun berdehem sambil berjalan mendekati lukisan yang dilihat oleh Langit tadi, dia tersenyum melihat lukisan tersebut “Jadi apa judul dari lukisan indah ini?” Tanya Rain pada Langit yang masih melihat kearahnya. Langit tersenyum lalu merangkul bahu Rain dan berkata. “This painting about you Rainy Adeline” jawab Langit sambil tersenyum manis dan menoleh ke arah Rain.
