CENTRO RIAU -Pengaplikasian pendidikan inklusi menekankan bahwa seluruh siswa dapat diterima tanpa diskriminasi, sehingga menciptakan bentuk pelayanan kesetaraan pendidikan. Pendidikan inklusi memaksimalkan seluruh potensi serta keterampilan pelajarnya secara intens, agar mereka dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial sekitarnya. Seperti yang telah diketahui bahwa anak dengan kebutuhan khusus yang masuk pada ruang sumber inklusif itu telah memiliki jadwal agar selama proses pembelajaran dapat lebih teratur serta pada saat istirahat mereka dapat kembali ke kelas reguler untuk bermain bersama teman-teman di kelasnya.
Hal tersebut ditujukan untuk melatih anak dengan kebutuhan khusus agar dapat bersosialisasi dengan orang lain. Dengan bersosialisasi, membiasakan anak untuk berempati dengan temannya serta dapat mengenali dan mengelola emosinya. Anak dengan kebutuhan khusus sering terlihat berbeda baik dari fisik, mental, maupun sosial emosional. Mereka mempunyai karakteristik khusus yang dapat mengakibatkan adanya beberapa penyesuaian pada bidang tertentu, agar mereka tetap mendapatkan hak yang sama dengan anak lain dan bahkan penyesuaian tersebut harus dapat mengoptimalkan perkembangannya sebagaimana layaknya anak-anak yang lain.
Penerapan dalam pendidikan inklusif tentunya tidak semudah yang dibayangkan karena dibutuhkan beberapa persiapan yang mendalam agar pelaksanaan pendidikan inklusif sesuai dengan yang dipahami secara teoritis. Terdapat beberapa persiapan yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan pendidikan inklusif, antara lain (1) Kesiapan pengajar dalam memiliki kompetensi, yakni seperti dengan adanya pemahaman serta keterampilan mengajar dalam mengelola kelas inklusif; (2) Kurikulum yang terdiferensiasi sesuai dengan kapasitas serta kebutuhan dari siswa berkebutuhan khusus; (3) Kesadaran, pemahaman, dan penerimaan teman sebaya dan orang tuanya tentang kehadiran siswa dengan kebutuhan khusus di sekolah; dan (4) Ketersediaan fasilitas untuk mendukung proses belajar mengajar bagi siswa berkebutuhan khusus.
Pelaksanaan pembelajaran bagi anak yang memiliki kebutuhan khusus sangat membutuhkan strategi. Terdapat teknik tersendiri yang akan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak. Pembelajaran bagi anak yang memiliki kebutuhan khusus perlu dipersiapkan oleh pengajar di sekolah dengan melihat kondisinya sehingga mereka dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Pembelajaran tersebut disusun berdasarkan penggalian kemampuan diri anak yang memiliki kebutuhan khusus yang didasarkan pada kurikulum berbasis kompetensi. Peran seorang pendidik atau pengajar dalam pendidikan inklusif ini adalah untuk mengarahkan peserta didik sesuai dengan potensi serta bakat yang dimiliki oleh setiap siswa. Seorang guru atau pengajar merupakan orang yang terdekat bagi siswa.
Selain itu, guru juga dapat menjadi kedua orang tua peserta didik selama di sekolah. Seorang pengajar dalam pelaksanaan pembelajaran inklusi lebih menekankan pada kemampuannya dalam mengelola kelas saat proses pembelajaran berlangsung. Maka dari itu, guru atau pengajar harus memiliki kompetensi dalam mengelola pembelajaran, pemahaman terhadap siswa yang memiliki beragam perbedaan, dan pelaksanaan proses pembelajaran yang bersifat mendidik.
Kesadaran orangtua dan masyarakat (lingkungan sosialnya) juga merupakan suatu hal yang penting untuk mendukung keberlangsungan pembelajaran sebab anak berkebutuhan khusus memerlukan dukungan besar dari orangtua dalam pengambilan keputusan. Penerimaan dari masyarakat (lingkungan sosialnya) juga berpengaruh terhadap mental anak. Sekolah yang menerapkan pendidikan inklusif memiliki tanggung jawab besar.
Pendidikan inklusif bukan hanya menampung siswa berkebutuhan khusus di sekolah regular dan membiarkannya begitu saja dengan siswa pada umumnya. Pembimbing harus memahami secara mendalam walau hanya salah satu dari kriteria khusus anak inklusi. Pendidikan inklusif juga bukan hanya mengikutsertakan mereka kedalam pembelajaran dengan kriteria khusus yang berbeda saja. Akan tetapi, juga membentuk karakter layaknya siswa pada umumnya. Misalnya, diberi tahu dikit demi sedikit tentang kehidupan bermasyarakat supaya dapat bersosialisasi yang semestinya. Selain itu, menumbuhkan rasa percaya diri mereka akan kemampuan yang dimilikinya.
Pelaksanaan pembelajaran siswa inklusif di sekolah dasar formal tetap sama dengan siswa lain pada umumnya, tidak ada perbedaan kedudukan, hanya saja yang membedakannya ialah pelayanannya. Pada proses pembelajaran yang diberikan guru pada anak berkebutuhan khusus (ABK) lebih disesuaikan temponya dibanding siswa pada umumnya. Penanganan pembelajaran untuk siswa inklusif lebih slow learner dan tidak dipaksakan karena siswa tersebut memiliki nilai khusus dibandingkan siswa lainnya. Misal, saat siswa lain mengerjakan soal untuk menghitung luas bangun datar, siswa yang termasuk kedalam kategori slow learner tersebut hanya disuruh menggambarkan dan menuliskan jenis bangun datarnya.
Artikel ini dibuat menurut opini anggota kelompok 1 serta untuk memenuhi tugas akhir kelompok 1 dengan
Mata kuliah : Pendidikan Inklusi di SD.
Dosen pengampu : Dea Mustika S. Pd., M. Pd
Nama Kelompok : 1.Dela Ade Ira Pratiwy (216910396)
2. Dela Septia ( 216910783)
3.Fitri Annisa (216910189)
4.Weniar Fauziah (216910155)
5.Weny Agustin (216910113)
6.Widya Lestari (216910574)
