Centro Riau -1. Agnes Yurika Irsanti, 2. Selvi Haryanti, 3. Maleni Nurhikmah.
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
agnesyurikaa@gmail.com, selviharyanti20@gmail.com, maleninurhikmahnst@gmail.com
Abstrak
Hal yang paling mendasar dalam praktik literasi adalah kegiatan membaca. Keterampilan membaca merupakan fondasi untuk mempelajari berbagai hal lainnya. Kemampuan ini penting bagi pertumbuhan intelektual peserta didik. Melalui membaca peserta didik dapat menyerap pengetahuan dan mengeksplorasi dunia yang bermanfaat bagi kehidupannya. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Islam Terpadu Abu Bakar Ash-Shiddiq. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) bertujuan untuk Menumbuhkembangkan budaya literasi membaca dan menulis siswa di sekolah, Meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar literat. Pelaksanaan GLS berupa tahap pembiasaan, tahap pengembangan dan tahap pembelajaran.
Pendahuluan
Literasi tidak sekedar membaca dan menulis, namun mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori. Literasi merupakan keterampilan penting dalam hidup. Sebagian besar proses pendidikan bergantung pada kemampuan dan kesadaran literasi. Budaya literasi yang tertanam dalam diri peserta didik memengaruhi tingkat keberhasilannya, baik di sekolah maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.
Hal yang paling mendasar dalam praktik literasi adalah kegiatan membaca. Keterampilan membaca merupakan fondasi untuk mempelajari berbagai hal lainnya. Kemampuan ini penting bagi pertumbuhan intelektual peserta didik. Melalui membaca peserta didik dapat menyerap pengetahuan dan mengeksplorasi dunia yang bermanfaat bagi kehidupannya. Membaca memberikan pengaruh budaya yang amat kuat terhadap perkembangan literasi peserta didik. Sayangnya, sampai saat ini prestasi literasi membaca peserta didik di Indonesia masih rendah, berada di bawah rata-rata skor internasional. Dari laporkan hasil studi yang dilakukan Central Connecticut State University di New Britain, diperoleh informasi bahwa kemampuan literasi Indonesia berada pada peringkat 60 dari 61 negara yang disurvei (Jakarta Post, 2016).
Rendahnya literasi membaca tersebut akan berpengaruh pada daya saing bangsa dalam persaingan global. Hal ini memberikan penguatan bahwa pembiasaan wajib baca sangat penting diterapkan dalam pendidikan di Indonesia, karena wajib baca mempunyai tujuan yang sangat luas dan mendasar yakni : a) membentuk budi pekerti luhur; b) mengembangkan rasa cinta membaca; c) merangsang tumbuhnya kegiatan membaca di luar sekolah; d) menambah pengetahuan dan pengalaman; e) meningkatkan intelektual; f) meningkatkan kreativitas; g) meningkatkan kemampuan literasi tinggi.
Hasil dan Pembahasan
1. Tujuan Gerakan Literasi Sekolah
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) bertujuan:
a. Menumbuhkembangkan budaya literasi membaca dan menulis siswa di sekolah,
b. Meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar literat,
c. Menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak agar warga sekolah mampu mengelola pengetahuan.
d. Menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan mewadahi berbagai strategi membaca
2. Pelaksanaan GLS
2.1 Tahap Pembiasaan
a. Tadarus Pagi
Kegiatan ini bertujuan melatih peserta didik dalam mengamalkan nilai-nilai keagamaan, membiasakan diri bersikap santun, dan sebagai salah satu media untuk memberi semangat pagi sebelum kegiatan belajar mengajar. Selain itu, kegiatan ini juga akan meningkatkan rasa percaya diri, kefasihan dalam membaca Al- Quran (bagi peserta didik yang bertugas membaca) dan memudahkan peserta didik dalam menghafalkan surat-surat.
1). Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari selama dua puluh menit sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai.
2). Salah satu peserta didik yang bertugas, membaca surat-surat Al-quran di dalam buku karakter siswa melalui pengeras suara yang ada di ruang guru.
3). Peserta didik yang lain mendengarkan melalui speaker kelas dan ikut membaca surat-surat Al-quran bersama di dalam kelas masing-masing dengan didampingi guru mata pelajaran yang mengajar di jam pertama.
b. Pembacaan Asmaul Husna
Kegiatan ini dilaksanakan setiap Jumat selama lima belas menit sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai.
1). Salah satu peserta didik membaca Asmaul Husna di dalam buku karakter siswa melalui pengeras suara yang ada di ruang guru.
2). Peserta didik yang lain mendengarkan melalui speaker kelas dan ikut membaca Asmaul Husna bersama di dalam kelas masing-masing dengan didampingi guru mata pelajaran yang mengajar di jam pertama.
3). Asmaul Husna dibacakan dengan dilagukan. Hal ini agar peserta didik lambat laun hafal dengan Asmaul Husna.
c. Wajib Kunjung Perpustakaan Sekolah
Kegiatan ini bertujuan memanfaatkan perpustakaan untuk menumbuhkan kegemaran membaca.
1). Pengelola perpustakaan memberikan jadwal kunjung ke perpustakaan kepada setiap guru mata pelajaran.
2). Sesuai dengan jadwal, setiap guru mata pelajaran membawa peserta didik satu kelas untuk berkunjung ke perpustakaan.
2.2 Tahap Pengembangan
a. Lomba Berbahasa di Bulan Bahasa
Kegiatan ini dilaksanakan rutin tahunan, yaitu pada bulan bahasa. Bulan bahasa merupakan bulan yang berkaitan erat dengan sejarah bahasa bangsa Indonesia yaitu Sumpah Pemuda yang terjadi pada tanggal 28 Oktober 1928. Salah satu isinya yaitu menyatakan bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional sekaligus bahasa pemersatu bangsa. Oleh sebab itu, pada bulan Oktober biasa diperingati sebagai Bulan Bahasa.
Kegiatan ini bertujuan untuk :
1). Umum :
Meningkatkan kualitas siswa dalam berbahasa dan bersastra Indonesia, serta menerapkan budaya literasi di sekolah.
2). Khusus :
– Menambah pengetahuan siswa tentang berbahasa dan bersastra Indonesia.
– Mengembangkan kreativitas siswa dalam berkarya di bidang bahasa Indonesia.
– Melatih siswa untuk peduli terhadap bahasa Indonesia.
– Sebagai media penyalur bakat bahasa dan sastra.
– Melatih siswa untuk lebih cinta dan memanfaat fungsi perpustakaan.
Kegiatan Gebyar Bulan Bahasa dilaksanakan dengan mengadakan berbagai kegiatan, antara lain:
– Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda
Lomba kemampuan berbahasa lisan
– Lomba Pidato Bahasa Arab
– Lomba Pidato Bahasa Inggris
– Moco geguritan
– Bercerita
– Stan up comedy
– Paduan suara
– Lomba kemampuan berbahasa tulis
– Lomba menulis puisi
– Lomba menulis cerpen
– Lomba mading kreatif
– Lomba membuat poster berbahasa Inggris
– Lomba menulis kaligrafi
Menulis naskah drama
– Lomba kebersihan dan kerapian kelas
b. Mading OSIS (terbit tiga bulan sekali)
Kegiatan ini membiasakan peserta didik untuk menulis, mempublikasi, dan membaca karya secara berkala. Berikut ini beberapa kegiatan dalam majalah dinding (mading) OSIS.
1). Membuat mading OSIS;
2). Menulis berita;
3). Mempublikasikan berita di mading.
Adapun rubrik yang ditulis dalam mading OSIS ialah artikel, opini, berita utama, info terkini, tips & trik, puisi, cerpen, ilustrasi, quotes of the day, tokoh nasional (gambar dan biografi), dan tulisan humor.
c. Klub Jurnalistik (Jangka panjang)
Peserta didik yang tergabung dalam klub ini melakukan berbagai aktivitas literasi, di antaranya sebagai berikut.
1). Pelatihan Menulis
Kegiatan ini diadakan pada pertengahan semester satu, guna mempersiapkan klub jurnalistik dalam penyusunan majalah sekolah.
Adapun secara khusus, tujuan diadakannya kegiatan ini adalah :
– untuk memunculkan bakat terpendam yang dimiliki siswa;
– menanamkan disiplin dan mental yang baik bagi siswa;
– menumbuhkan jiwa peka lingkungan;
– sebagai bahan pendidikan untuk membuat majalah sekolah;
– meningkatkan literasi siswa siswi.
Bentuk kegiatan berupa kegiatan ini, yaitu:
– Pengenalan dunia jurnalistik
– Latihan menyajikan berita
2). Pembuatan Majalah Sekolah
Majalah sekolah sangat bermanfaat memberikan informasi guna menambah wawasan. Setiap hari kita diterpa ribuan informasi. Kita dituntut untuk selektif, kritis dan cerdas dalam memilih maupun menggunakan informasi mana yang akan kita respon. Sayangnya, kenyataan yang ada disekitar kita adalah semakin menurunnya daya pikir kritis masyarakat, terutama pelajar. Ketertarikan mereka terhadap media kebanyakan bukan didasari rasa ingin tahu terhadap informasi atau ingin menambah wawasan. Tetapi karena untuk hiburan belaka. Kenyataan yang lain adalah, masyarakat kita masih lebih menggemari membuka media maya seperti internet dan menonton televisi ketimbang membaca.
Ironisnya, pesatnya pertumbuhan media di Indonesia tidak dibarengi dengan meningkatnya kepandaian membaca dan menulis, tingkat ‘literacy’ media pada masyarakat. Masyarakat cenderung konsumtif terhadap media. Budaya membaca harus dimiliki oleh seluruh lapisan masyarakat, tidak hanya membaca tetapi juga dengan berkarya dan memproduksi. Tidak hanya untuk para orang tua, guru sekolah, dosen, tokoh agama atau para pembuat kebijakan, budaya membaca media, sikap kritis dalam mengkonsumsi media justru harus dimiliki oleh golongan yang secara langsung menjadi penikmat dan sasaran utama media yaitu para pelajar dan remaja.
Sebagai lembaga pendidikan yang berbasis imtak dan imtek, kita butuh membentuk media sebagai wadah guna menciptakan suasana yang menggambarkan minat baca tinggi, terlebih di kalangan siswa dan siswi. Terkhusus lagi, adanya majalah sekolah juga salah satu bentuk peningkatan gerakan literasi sekolah. Begitu banyaknya ragam media di sekitar kita dengan berbagai macam rupa dan bentuknya. Akan tetapi, semua media tersebut hanya dapat memberikan manfaat bagi kita yang memanfaatkannya. Sedangkan, kecil kemungkinan untuk mempublikasikan karya para siswa. Oleh karena itu, pembentukan majalah sekolah sebagai media yang bersedia menerima karya-karya siswa, sangat perlu dibentuk.
2.3 Tahap Pembelajaran
a. Membaca Buku Cerita (setengah jam, seminggu sekali)
Kegiatan ini membiasakan peserta didik untuk membaca sastra. Kegiatan membaca buku cerita dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:
– membaca buku cerita;
– membuat ringkasan isi cerita;
– membuat bahan presentasi;
– menceritakan kembali pada teman atau kelompok.
b. Wajib Kunjung Perpustakaan Sekolah
Kegiatan ini sudah dikenalkan pada tahap pembiasaan. Dalam tahap pembelajaran, ada tambahan langkah terkait dengan tagihan akademik. Berikut ini alternatif langkah yang dapat dilakukan.
– Pengelola perpustakaan memberikan jadwal kunjung ke perpustakaan kepada setiap guru mata pelajaran.
– Sesuai dengan jadwal, setiap guru mata pelajaran membawa peserta didik satu kelas untuk berkunjung ke perpustakaan.
– Guru memberikan tugas untuk membaca buku yang berkaitan topik pembelajaran, membuat resume, dan berdiskusi.
Penutup
Rendahnya literasi membaca tersebut akan berpengaruh pada daya saing bangsa dalam persaingan global. Hal ini memberikan penguatan bahwa pembiasaan wajib baca sangat penting diterapkan dalam pendidikan di Indonesia, karena wajib baca mempunyai tujuan yang sangat luas dan mendasar yakni : a) membentuk budi pekerti luhur; b) mengembangkan rasa cinta membaca; c) merangsang tumbuhnya kegiatan membaca di luar sekolah; d) menambah pengetahuan dan pengalaman; e) meningkatkan intelektual; f) meningkatkan kreativitas; g) meningkatkan kemampuan literasi tinggi.
PROGRAM LITERASI SEKOLAH DASAR ISLAM TERPADU ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ
Centro Riau -1. Agnes Yurika Irsanti, 2. Selvi Haryanti, 3. Maleni Nurhikmah. Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
agnesyurikaa@gmail.com, selviharyanti20@gmail.com, maleninurhikmahnst@gmail.com
Abstrak
Hal yang paling mendasar dalam praktik literasi adalah kegiatan membaca. Keterampilan membaca merupakan fondasi untuk mempelajari berbagai hal lainnya. Kemampuan ini penting bagi pertumbuhan intelektual peserta didik. Melalui membaca peserta didik dapat menyerap pengetahuan dan mengeksplorasi dunia yang bermanfaat bagi kehidupannya. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Islam Terpadu Abu Bakar Ash-Shiddiq. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) bertujuan untuk Menumbuhkembangkan budaya literasi membaca dan menulis siswa di sekolah, Meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar literat. Pelaksanaan GLS berupa tahap pembiasaan, tahap pengembangan dan tahap pembelajaran.
Pendahuluan Literasi tidak sekedar membaca dan menulis, namun mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori. Literasi merupakan keterampilan penting dalam hidup. Sebagian besar proses pendidikan bergantung pada kemampuan dan kesadaran literasi. Budaya literasi yang tertanam dalam diri peserta didik memengaruhi tingkat keberhasilannya, baik di sekolah maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik. Hal yang paling mendasar dalam praktik literasi adalah kegiatan membaca. Keterampilan membaca merupakan fondasi untuk mempelajari berbagai hal lainnya. Kemampuan ini penting bagi pertumbuhan intelektual peserta didik. Melalui membaca peserta didik dapat menyerap pengetahuan dan mengeksplorasi dunia yang bermanfaat bagi kehidupannya. Membaca memberikan pengaruh budaya yang amat kuat terhadap perkembangan literasi peserta didik. Sayangnya, sampai saat ini prestasi literasi membaca peserta didik di Indonesia masih rendah, berada di bawah rata-rata skor internasional. Dari laporkan hasil studi yang dilakukan Central Connecticut State University di New Britain, diperoleh informasi bahwa kemampuan literasi Indonesia berada pada peringkat 60 dari 61 negara yang disurvei (Jakarta Post, 2016). Rendahnya literasi membaca tersebut akan berpengaruh pada daya saing bangsa dalam persaingan global. Hal ini memberikan penguatan bahwa pembiasaan wajib baca sangat penting diterapkan dalam pendidikan di Indonesia, karena wajib baca mempunyai tujuan yang sangat luas dan mendasar yakni : a) membentuk budi pekerti luhur; b) mengembangkan rasa cinta membaca; c) merangsang tumbuhnya kegiatan membaca di luar sekolah; d) menambah pengetahuan dan pengalaman; e) meningkatkan intelektual; f) meningkatkan kreativitas; g) meningkatkan kemampuan literasi tinggi.
Hasil dan Pembahasan 1. Tujuan Gerakan Literasi Sekolah Gerakan Literasi Sekolah (GLS) bertujuan: a. Menumbuhkembangkan budaya literasi membaca dan menulis siswa di sekolah, b. Meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar literat, c. Menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak agar warga sekolah mampu mengelola pengetahuan. d. Menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan mewadahi berbagai strategi membaca
2. Pelaksanaan GLS 2.1 Tahap Pembiasaan a. Tadarus Pagi Kegiatan ini bertujuan melatih peserta didik dalam mengamalkan nilai-nilai keagamaan, membiasakan diri bersikap santun, dan sebagai salah satu media untuk memberi semangat pagi sebelum kegiatan belajar mengajar. Selain itu, kegiatan ini juga akan meningkatkan rasa percaya diri, kefasihan dalam membaca Al- Quran (bagi peserta didik yang bertugas membaca) dan memudahkan peserta didik dalam menghafalkan surat-surat. 1). Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari selama dua puluh menit sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai. 2). Salah satu peserta didik yang bertugas, membaca surat-surat Al-quran di dalam buku karakter siswa melalui pengeras suara yang ada di ruang guru. 3). Peserta didik yang lain mendengarkan melalui speaker kelas dan ikut membaca surat-surat Al-quran bersama di dalam kelas masing-masing dengan didampingi guru mata pelajaran yang mengajar di jam pertama. b. Pembacaan Asmaul Husna Kegiatan ini dilaksanakan setiap Jumat selama lima belas menit sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai. 1). Salah satu peserta didik membaca Asmaul Husna di dalam buku karakter siswa melalui pengeras suara yang ada di ruang guru. 2). Peserta didik yang lain mendengarkan melalui speaker kelas dan ikut membaca Asmaul Husna bersama di dalam kelas masing-masing dengan didampingi guru mata pelajaran yang mengajar di jam pertama. 3). Asmaul Husna dibacakan dengan dilagukan. Hal ini agar peserta didik lambat laun hafal dengan Asmaul Husna.
c. Wajib Kunjung Perpustakaan Sekolah Kegiatan ini bertujuan memanfaatkan perpustakaan untuk menumbuhkan kegemaran membaca. 1). Pengelola perpustakaan memberikan jadwal kunjung ke perpustakaan kepada setiap guru mata pelajaran. 2). Sesuai dengan jadwal, setiap guru mata pelajaran membawa peserta didik satu kelas untuk berkunjung ke perpustakaan.
2.2 Tahap Pengembangan a. Lomba Berbahasa di Bulan Bahasa Kegiatan ini dilaksanakan rutin tahunan, yaitu pada bulan bahasa. Bulan bahasa merupakan bulan yang berkaitan erat dengan sejarah bahasa bangsa Indonesia yaitu Sumpah Pemuda yang terjadi pada tanggal 28 Oktober 1928. Salah satu isinya yaitu menyatakan bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional sekaligus bahasa pemersatu bangsa. Oleh sebab itu, pada bulan Oktober biasa diperingati sebagai Bulan Bahasa. Kegiatan ini bertujuan untuk : 1). Umum : Meningkatkan kualitas siswa dalam berbahasa dan bersastra Indonesia, serta menerapkan budaya literasi di sekolah. 2). Khusus : – Menambah pengetahuan siswa tentang berbahasa dan bersastra Indonesia. – Mengembangkan kreativitas siswa dalam berkarya di bidang bahasa Indonesia. – Melatih siswa untuk peduli terhadap bahasa Indonesia. – Sebagai media penyalur bakat bahasa dan sastra. – Melatih siswa untuk lebih cinta dan memanfaat fungsi perpustakaan. Kegiatan Gebyar Bulan Bahasa dilaksanakan dengan mengadakan berbagai kegiatan, antara lain: – Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda Lomba kemampuan berbahasa lisan – Lomba Pidato Bahasa Arab – Lomba Pidato Bahasa Inggris – Moco geguritan – Bercerita – Stan up comedy – Paduan suara – Lomba kemampuan berbahasa tulis – Lomba menulis puisi – Lomba menulis cerpen – Lomba mading kreatif – Lomba membuat poster berbahasa Inggris – Lomba menulis kaligrafi Menulis naskah drama – Lomba kebersihan dan kerapian kelas
b. Mading OSIS (terbit tiga bulan sekali) Kegiatan ini membiasakan peserta didik untuk menulis, mempublikasi, dan membaca karya secara berkala. Berikut ini beberapa kegiatan dalam majalah dinding (mading) OSIS. 1). Membuat mading OSIS; 2). Menulis berita; 3). Mempublikasikan berita di mading. Adapun rubrik yang ditulis dalam mading OSIS ialah artikel, opini, berita utama, info terkini, tips & trik, puisi, cerpen, ilustrasi, quotes of the day, tokoh nasional (gambar dan biografi), dan tulisan humor.
c. Klub Jurnalistik (Jangka panjang) Peserta didik yang tergabung dalam klub ini melakukan berbagai aktivitas literasi, di antaranya sebagai berikut. 1). Pelatihan Menulis Kegiatan ini diadakan pada pertengahan semester satu, guna mempersiapkan klub jurnalistik dalam penyusunan majalah sekolah. Adapun secara khusus, tujuan diadakannya kegiatan ini adalah : – untuk memunculkan bakat terpendam yang dimiliki siswa; – menanamkan disiplin dan mental yang baik bagi siswa; – menumbuhkan jiwa peka lingkungan; – sebagai bahan pendidikan untuk membuat majalah sekolah; – meningkatkan literasi siswa siswi.
Bentuk kegiatan berupa kegiatan ini, yaitu: – Pengenalan dunia jurnalistik – Latihan menyajikan berita
2). Pembuatan Majalah Sekolah Majalah sekolah sangat bermanfaat memberikan informasi guna menambah wawasan. Setiap hari kita diterpa ribuan informasi. Kita dituntut untuk selektif, kritis dan cerdas dalam memilih maupun menggunakan informasi mana yang akan kita respon. Sayangnya, kenyataan yang ada disekitar kita adalah semakin menurunnya daya pikir kritis masyarakat, terutama pelajar. Ketertarikan mereka terhadap media kebanyakan bukan didasari rasa ingin tahu terhadap informasi atau ingin menambah wawasan. Tetapi karena untuk hiburan belaka. Kenyataan yang lain adalah, masyarakat kita masih lebih menggemari membuka media maya seperti internet dan menonton televisi ketimbang membaca. Ironisnya, pesatnya pertumbuhan media di Indonesia tidak dibarengi dengan meningkatnya kepandaian membaca dan menulis, tingkat ‘literacy’ media pada masyarakat. Masyarakat cenderung konsumtif terhadap media. Budaya membaca harus dimiliki oleh seluruh lapisan masyarakat, tidak hanya membaca tetapi juga dengan berkarya dan memproduksi. Tidak hanya untuk para orang tua, guru sekolah, dosen, tokoh agama atau para pembuat kebijakan, budaya membaca media, sikap kritis dalam mengkonsumsi media justru harus dimiliki oleh golongan yang secara langsung menjadi penikmat dan sasaran utama media yaitu para pelajar dan remaja. Sebagai lembaga pendidikan yang berbasis imtak dan imtek, kita butuh membentuk media sebagai wadah guna menciptakan suasana yang menggambarkan minat baca tinggi, terlebih di kalangan siswa dan siswi. Terkhusus lagi, adanya majalah sekolah juga salah satu bentuk peningkatan gerakan literasi sekolah. Begitu banyaknya ragam media di sekitar kita dengan berbagai macam rupa dan bentuknya. Akan tetapi, semua media tersebut hanya dapat memberikan manfaat bagi kita yang memanfaatkannya. Sedangkan, kecil kemungkinan untuk mempublikasikan karya para siswa. Oleh karena itu, pembentukan majalah sekolah sebagai media yang bersedia menerima karya-karya siswa, sangat perlu dibentuk.
2.3 Tahap Pembelajaran a. Membaca Buku Cerita (setengah jam, seminggu sekali) Kegiatan ini membiasakan peserta didik untuk membaca sastra. Kegiatan membaca buku cerita dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain: – membaca buku cerita; – membuat ringkasan isi cerita; – membuat bahan presentasi; – menceritakan kembali pada teman atau kelompok. b. Wajib Kunjung Perpustakaan Sekolah Kegiatan ini sudah dikenalkan pada tahap pembiasaan. Dalam tahap pembelajaran, ada tambahan langkah terkait dengan tagihan akademik. Berikut ini alternatif langkah yang dapat dilakukan. – Pengelola perpustakaan memberikan jadwal kunjung ke perpustakaan kepada setiap guru mata pelajaran. – Sesuai dengan jadwal, setiap guru mata pelajaran membawa peserta didik satu kelas untuk berkunjung ke perpustakaan. – Guru memberikan tugas untuk membaca buku yang berkaitan topik pembelajaran, membuat resume, dan berdiskusi.
Penutup
Rendahnya literasi membaca tersebut akan berpengaruh pada daya saing bangsa dalam persaingan global. Hal ini memberikan penguatan bahwa pembiasaan wajib baca sangat penting diterapkan dalam pendidikan di Indonesia, karena wajib baca mempunyai tujuan yang sangat luas dan mendasar yakni : a) membentuk budi pekerti luhur; b) mengembangkan rasa cinta membaca; c) merangsang tumbuhnya kegiatan membaca di luar sekolah; d) menambah pengetahuan dan pengalaman; e) meningkatkan intelektual; f) meningkatkan kreativitas; g) meningkatkan kemampuan literasi tinggi.
Daftar Pustaka Priasti, S. N., & Suyatno, S. (2021). Penerapan Pendidikan Karakter Gemar Membaca Melalui Program Literasi di Sekolah Dasar. Jurnal Kependidikan: Jurnal Hasil Penelitian dan Kajian Kepustakaan di Bidang Pendidikan, Pengajaran dan Pembelajaran, 7(2), 395-407. Ekowati, D. W., Astuti, Y. P., Utami, I. W. P., Mukhlishina, I., & Suwandayani, B. I. (2019). Literasi numerasi di SD Muhammadiyah. ELSE (Elementary School Education Journal): Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Sekolah Dasar, 3(1), 93-103. Kurniawan, A. R., Chan, F., Abdurrohim, M., Wanimbo, O., Putri, N. H., Intan, F. M., & Samosir, W. L. S. (2019). Problematika guru dalam melaksanakan program literasi di kelas IV Sekolah Dasar. EduStream: Jurnal Pendidikan Dasar, 3(2), 31-37 Fadhli, R. (2021). Implementasi kompetensi pembelajaran sepanjang hayat melalui program literasi di perpustakaan sekolah. Jurnal Kajian Informasi & Perpustakaan, 9(1), 19-38. Husna, A. N., Yuliani, D., Rachmawati, T., Anggraini, D. E., Anwar, R., & Utomo, R. (2021). Program Literasi Digital untuk Pengembangan Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial di Desa Sedayu, Muntilan, Magelang. Community Empowerment, 6(2), 156-166. Dafit, F., & Ramadan, Z. H. (2020). Pelaksanaan Program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu, 4(4), 1429-1437. Setiawan, A. R. (2019, October). Penyusunan program pembelajaran biologi berorientasi literasi saintifik. In Seminar Nasional Sains & Entrepreneurship (Vol. 1, No. 1). Kartini, D., & Yuhana, Y. (2019). Peran kepala sekolah dalam mensukseskan program literasi. JMKSP (Jurnal Manajemen, Kepemimpinan, dan Supervisi Pendidikan), 4(2), 137-144. *****
